Periskop.id - Kepala Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk Irman Faiz memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2026 berpotensi membaik dibandingkan kuartal sebelumnya. Perbaikan itu diperkirakan terdorong oleh percepatan belanja pemerintah pada semester kedua.
Faiz menjelaskan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal II diperkirakan sedikit melambat usai kuartal I mendapat dorongan dari faktor musiman seperti momentum Lebaran dan pembayaran tunjangan hari raya.
"Di kuartal ketiga kami cukup optimistis pertumbuhan ekonomi lebih baik daripada kuartal kedua," kata Irman Faiz dalam Media Luncheon HUT ke-70 Danamon di Jakarta, Selasa (14/7).
Dorongan fiskal pada kuartal II, menurutnya, juga diperkirakan lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya. Kondisi ini terjadi seiring penyesuaian belanja dan transisi pelaksanaan sejumlah program prioritas pemerintah.
Meski begitu, Faiz menilai ruang penguatan ekonomi kembali terbuka pada semester II. Sebab, masih terdapat pagu belanja pemerintah yang belum terealisasi.
"Di kuartal III dan kuartal IV kami melihat belanja yang belum dibelanjakan masih cukup besar. Kalau ini dibelanjakan, akan menjadi dorongan lagi," ujar Faiz.
Dampak belanja pemerintah, ia melanjutkan, tidak hanya tercermin pada komponen konsumsi pemerintah. Efeknya juga bisa merambat ke konsumsi rumah tangga dan investasi, seperti yang sudah terlihat pada kuartal I ketika stimulus fiskal ikut mengerek aktivitas konsumsi dan pembentukan modal.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 tumbuh 5,61% secara tahunan. Konsumsi pemerintah tercatat tumbuh paling tinggi sebesar 21,81%, sementara konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama perekonomian nasional.
Produk domestik bruto atas dasar harga konstan pada periode itu tercatat Rp3.447,7 triliun. Berdasarkan harga berlaku, angkanya mencapai Rp6.187,2 triliun.
Realisasi belanja negara hingga semester I 2026 mencapai Rp1.656 triliun, setara 43,1% dari target APBN sebesar Rp3.842,7 triliun. Berdasarkan data Kementerian Keuangan per 7 Juli 2026, belanja pemerintah pusat tercatat Rp1.298,6 triliun atau 41,2% dari target Rp3.149,7 triliun, sehingga masih terbuka ruang realisasi belanja yang cukup besar pada semester kedua.
Percepatan belanja tersebut, menurut Faiz, perlu dibarengi pengelolaan fiskal yang terukur agar dukungannya terhadap pertumbuhan berlangsung tanpa mengganggu kredibilitas APBN. Ia juga menekankan pentingnya menjaga penerimaan negara sesuai target, karena pelemahan ekonomi global maupun penerimaan pajak yang lebih rendah bisa membatasi ruang belanja pemerintah.
Kepastian realisasi penerimaan, kata dia, diperlukan agar berbagai stimulus yang telah diumumkan pemerintah tetap bisa dijalankan pada semester II dan menopang pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026.
"Pemerintah perlu memastikan koleksi pajak dan penerimaan negara sesuai dengan target baru sehingga belanja untuk mendorong pertumbuhan pada semester kedua tetap dapat dilancarkan," ucap Faiz.
Sejalan dengan proyeksi tersebut, pemerintah telah menyiapkan paket stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun untuk semester II 2026 guna menjaga konsumsi masyarakat di tengah ketidakpastian global. Stimulus itu mencakup insentif transportasi, program magang dan pelatihan vokasi, bantuan pangan, serta dukungan stabilisasi harga pangan.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar