Periskop.id - Riset NEXT Indonesia Center mengungkap aktivitas e-commerce di Indonesia masih terpusat di Pulau Jawa. Dari 10 wilayah dengan rasio pembeli daring tertinggi, hanya satu daerah di luar Jawa yang berhasil masuk daftar tersebut.

Peneliti NEXT Indonesia Center Rezky Reza Pratama menjelaskan, besarnya nilai transaksi e-commerce nasional belum mencerminkan pemerataan ekonomi digital antardaerah. Ia menyebut aktivitas jual beli online masih bergantung pada kualitas infrastruktur, konektivitas internet, daya beli masyarakat, hingga biaya logistik.

"Kita tidak boleh hanya melihat total nilai transaksi e-commerce nasional yang terlihat besar secara keseluruhan. Internet memang bisa diakses dari mana saja, tetapi di lapangan hal ini bergantung juga dari masalah pengiriman barang, kestabilan sinyal, daya beli masyarakat, dan pemahaman digital. Jika hal ini tidak segera diperbaiki, ekonomi digital justru akan membuat kesejahteraan menjadi tidak merata," kata Reza dalam keterangan tertulis, Selasa (14/7).

Dari sisi penjual, Kabupaten Sleman di Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat rasio tertinggi se-Indonesia, mencapai 10,10% dari total penduduk. Kota Salatiga menyusul di posisi kedua dengan 9,25%, diikuti Kota Yogyakarta (9,13%), Kota Batu (8,92%), dan Kota Malang (8,67%).

Seluruh daerah dengan rasio penjual online tertinggi itu berada di Pulau Jawa dan berkarakter perkotaan dengan penetrasi internet serta aktivitas ekonomi yang relatif tinggi. Pada sisi pembeli, Kota Yogyakarta justru mencatat rasio tertinggi secara nasional sebesar 36,98%, disusul Kota Depok (36,96%), Jakarta Selatan (36,45%), Jakarta Timur (34,73%), Tangerang Selatan (34,03%), dan Kota Bekasi (33,09%).

Reza menilai Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman menjadi contoh daerah yang mampu menyeimbangkan aktivitas konsumsi dan produksi di ekosistem digital. Menurutnya, kedua wilayah itu punya keunikan tersendiri karena warganya tidak cuma aktif berbelanja tapi juga produktif berjualan.

"Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman tampaknya punya keunikan tersendiri karena sukses menyeimbangkan dua sisi aktivitas digital, di mana warganya tidak hanya aktif berbelanja, tetapi juga produktif berjualan berkat sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang hidup," imbuhnya.

Di tengah dominasi Jawa yang begitu kuat, Kota Pangkalpinang di Kepulauan Bangka Belitung tercatat sebagai satu-satunya wilayah luar Jawa yang masuk 10 besar daerah dengan rasio pembeli online tertinggi, yakni 33,30%.

"Di tengah dominasi Jawa yang sangat kuat ini, Kota Pangkalpinang di Kepulauan Bangka Belitung menjadi satu-satunya wilayah luar Jawa yang berhasil masuk di daftar 10 besar daerah konsumtif dengan rasio pembeli," katanya.

Secara nasional, data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025 mencatat sekitar 54 juta orang atau 19,18% penduduk Indonesia telah aktif berbelanja secara daring. Sementara itu, masyarakat yang memanfaatkan internet untuk berjualan baru mencapai 9,7 juta orang atau 3,43% dari total penduduk.

Kesenjangan angka tersebut, menurut Reza, menunjukkan pertumbuhan ekonomi digital masih didominasi aktivitas konsumsi dibanding produksi. Riset itu juga menemukan ketersediaan base transceiver station (BTS) menjadi salah satu prasyarat penting bagi berkembangnya e-commerce di suatu daerah.

Kota Depok, Jakarta Selatan, dan Tangerang Selatan misalnya, telah memiliki cakupan BTS di seluruh desa atau kelurahannya sehingga tak lagi terkendala sinyal telepon seluler maupun internet. Berbeda dengan Kabupaten Maluku Tenggara, baru 23,83% desa yang punya fasilitas BTS, sementara 48 desa lainnya sama sekali belum memperoleh akses sinyal internet.

Riset ini juga menemukan jaringan internet yang luas ternyata belum tentu mendorong transaksi digital. Kabupaten Kepulauan Aru dan Kabupaten Maluku Barat Daya, misalnya, sudah memiliki cakupan desa ber-BTS di atas 88%, tapi rasio pelaku e-commerce di kedua wilayah tersebut masih di bawah 2,5%.

"Hal ini menjadi bukti sinyal internet saja tidak cukup, melainkan harus didukung oleh daya beli masyarakat setempat, tingkat pemahaman digital, kemudahan pembayaran, serta ongkos pengiriman logistik yang masuk akal," ungkap Reza.