Periskop.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan harga ikan segar jadi penyumbang terbesar inflasi tahunan pada Juni 2026. Lonjakan harga solar disebut sebagai salah satu pemicu utama karena membuat nelayan mengurangi aktivitas melaut.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti memaparkan, selain ikan segar, inflasi tahunan Juni 2026 juga disumbang beras, minyak goreng, cabai merah, dan daging ayam ras. Menurutnya, kenaikan harga ikan segar terjadi hampir merata di berbagai provinsi.

"Ikan segar ini ada beberapa faktor yang mempengaruhi, antara lain karena kenaikan harga solar sehingga nelayan juga kesulitan untuk berlayar menangkap ikan. Selain itu ada di beberapa daerah juga mengalami cuaca yang kurang baik untuk melakukan penangkapan ikan," kata Amalia dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Senin (13/7).

Amalia menerangkan, ikan segar mencatat inflasi tahunan sebesar 8,87% yang tersebar di 36 provinsi. Gorontalo menjadi wilayah dengan inflasi ikan segar tertinggi, mencapai 26,17%.

"Banyaknya inflasi dari ikan segar di berbagai provinsi itu salah satunya karena bahan bakar minyak yang mengalami kenaikan," ungkap Amalia.

Tingginya inflasi ikan segar, menurut Amalia, turut mendorong enam provinsi mencatat inflasi tahunan tertinggi secara nasional. Di Papua Barat, misalnya, ikan segar menjadi penyumbang inflasi terbesar kedua setelah tarif angkutan udara.

Sementara di Aceh, tekanan inflasi didominasi kenaikan harga ikan segar, nasi dengan lauk, emas perhiasan, beras, dan cabai merah. Papua Barat Daya, Maluku Utara, dan Sumatra Utara juga mencatat tekanan serupa yang salah satunya dipicu harga ikan segar.

BPS mencatat inflasi ikan segar paling tinggi terjadi di Gorontalo, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Sulawesi Utara, dan Papua Tengah. Ikan tude atau kembung, ikan layang, hingga cakalang jadi penyumbang utama kenaikan harga di wilayah-wilayah tersebut.

Plt Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Erwin Dwiyana membenarkan kenaikan biaya melaut akibat mahalnya BBM menjadi salah satu faktor utama pendorong inflasi ikan segar.

"Memang dengan kenaikan bahan bakar, khususnya untuk melaut, kecenderungan nelayan mengurangi trip bahkan juga tidak melaut, menunggu situasi yang memungkinkan ataupun kondusif," ujar Erwin dalam kesempatan yang sama.

Erwin menambahkan, harga ikan segar sepanjang Januari-Juni 2026 bergerak fluktuatif. Inflasi bulanan sempat tinggi pada awal tahun, lalu berbalik jadi deflasi pada April-Mei sebelum kembali naik pada Juni.

Secara tahunan, inflasi ikan segar bertahan di kisaran 8-9%, yang menurutnya menunjukkan harga masih relatif lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya. Tekanan harga pada Juni, kata dia, terutama berasal dari komoditas ikan tangkap seperti layang dan cakalang.

Untuk menekan inflasi, KKP memperkuat pasokan ikan lewat peningkatan produksi perikanan tangkap berbasis kuota, pengembangan budi daya, penguatan rantai dingin atau cold storage, serta perbaikan distribusi dan logistik. Pemerintah juga memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah untuk memantau harga dan stok 15 komoditas ikan, sekaligus memperluas akses pembiayaan bagi nelayan agar tetap bisa melaut meski biaya operasional naik.

"Kemudian di beberapa daerah juga dilaporkan seperti di Dobo di Maluku terjadi kenaikan harga ikan hingga 30%. Juga di beberapa daerah di Gorontalo, melaporkan selain bahan bakar juga musim angin kencang menjadi penyebab nelayan tidak melaut, selain mungkin dari sisi bahan bakar," katanya.