Periskop.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) diharapkan dapat menarik aliran dana investor global yang kemudian dapat menjadi sumber pembiayaan baru bagi berbagai proyek di dalam negeri, mulai dari proyek investasi hingga pembiayaan utang negara.

‎Purbaya menjelaskan, dana yang masuk ke PFII tidak serta-merta diarahkan langsung ke proyek tertentu di Indonesia, melainkan akan dikelola melalui mekanisme pasar. Selanjutnya, investor akan menentukan sendiri instrumen dan proyek yang dinilai paling menarik dan menguntungkan.

‎"Ini uang-uang itu masuk ke pusat finansial, di situ Nanti kan pasti harus diputar juga. Nanti pusat finansial itu yang menentukan mau investasi di mana. Kita harapkan mereka bisa masuk ke proyek-proyek dalam negeri yang menarik," kata Purbaya kepada media, Jakarta, Kamis (2/7). 

‎Menurut Purbaya, investasi yang masuk melalui PFII akan sepenuhnya bersifat market-based, sehingga pemerintah tidak akan memaksa investor untuk menempatkan dananya pada proyek tertentu. Sebaliknya, pemerintah akan menawarkan berbagai proyek yang memiliki daya tarik investasi tinggi.

‎"Kalau ini kan proyek pasti market-based, suka-suka dia, bukan dipaksa. Jadi nanti akan ditawarkan proyek yang menarik untuk mereka. Kalau saya lihat kan beberapa proyek Danantara menarik, tapi ada proyek lain yang bukan Danantara juga menarik," ungkap dia. 

‎Purbaya mengatakan, dana yang masuk melalui PFII berpotensi mengalir ke berbagai sektor, termasuk proyek-proyek yang dikelola oleh Danantara maupun instrumen surat utang negara.

‎"Bisa masuk di proyek Danantara, bisa juga untuk membayar utang pemerintah kan. Kalau kita issue bond, dia bisa beli bond. Saya kira gitu, jadi sumber pembiayaan saya akan semakin lengkap," jelasnya. 

‎Ia menambahkan, kehadiran PFII diharapkan dapat memperluas basis investor global yang berpartisipasi dalam pembiayaan pembangunan Indonesia. Investor dari berbagai negara, seperti Amerika Serikat, Jepang, Australia, hingga China, diharapkan dapat memanfaatkan PFII sebagai pintu masuk untuk menempatkan modalnya di Indonesia.

‎"Jadi Amerika, Jepang, Australia, China Nanti dari sini sehingga kita lebih kuat dari si pembiayaan," tutupnya.