Periskop.id - Ekonom Universitas Indonesia (UI) Telisa Aulia Falianty menilai pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) berpotensi memberikan manfaat yang lebih besar dibandingkan biaya yang ditimbulkan, sepanjang berbagai risiko dapat dimitigasi dengan baik.

‎Telisa mengatakan, berdasarkan berbagai hasil penelitian di sejumlah negara, analisis biaya dan manfaat (cost-benefit analysis) menunjukkan bahwa pembentukan pusat finansial internasional cenderung menghasilkan manfaat bersih (net benefit) yang positif apabila memenuhi sejumlah prasyarat.

‎"Selama kita bisa mengendalikan dan memitigasi biaya-biaya ini, sebetulnya net benefit-nya akan cenderung positif, karena berbagai hasil riset itu cukup robas Bapak-Ibu dari berbagai negara, bahwa secara cost benefit analisis untuk pembentukan PFII, asalkan tadi pas syarat-syaratnya dipenuhi, itu cenderung manfaat lebih besar daripada biaya," kata Telisa dalam RDPU dengan DPR, Jakarta, dikutip Selasa (7/7). 

‎Meski demikian, ia mengingatkan terdapat sejumlah risiko yang harus dikelola secara serius agar manfaat tersebut dapat terwujud. Salah satu yang paling krusial adalah risiko reputasi (reputational risk), mengingat PFII nantinya akan menjadi bagian dari ekosistem keuangan internasional.

‎Menurutnya, setelah PFII diluncurkan, kredibilitas dan kepercayaan Indonesia di mata pelaku pasar global harus terus dijaga. Sebab, reputasi yang buruk dapat memengaruhi daya tarik pusat finansial tersebut bagi investor internasional.

‎"Jadi netizennya sudah netizen internasional. Jadi artinya kredibilitas dan kepercayaan itu sangat dibutuhkan, yang harus kita kontrol di dalam biayanya," terang dia. 

‎Selain risiko reputasi, Telisa juga menyoroti risiko sistemik (systemic risk) yang melekat pada pengembangan sektor keuangan. Ia menjelaskan bahwa setiap inovasi maupun pengembangan produk keuangan selalu membawa konsekuensi berupa peningkatan risiko terhadap stabilitas sistem keuangan.

‎"Kalau keuangan itu pasti produk-produk keuangan, pasti semuanya mengandung resiko, seperti itu. Nah, cuma kita harus memanage resiko-resiko tersebut, seperti itu. Dan yang paling penting sebetulnya adalah systemic risk dan credibility risknya yang harus kita jaga, reputational risk," papar dia. 

‎Ia menambahkan, pemerintah juga perlu memperhatikan biaya sosial melalui sosialisasi yang memadai kepada masyarakat agar pembentukan PFII dipahami sebagai kebijakan yang memberikan manfaat bagi perekonomian nasional.

Menurut Telisa, selama risiko reputasi, risiko sistemik, serta aspek tata kelola dapat dikelola secara optimal, pembentukan PFII akan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar dibandingkan biaya yang harus ditanggung.

‎"Nah, risknya itu harus kita jaga sebagai costnya nanti. Dan kemudian tentu cost secara sosial dan lain sebagainya yang perlu kita sosialisasikan ke masyarakat bahwa ini sesuatu yang positif, seperti itu. Kemudian yang lain, itu terkait dengan aspek-aspek yang perlu diatur," Telisa mengakhiri.