Periskop.id - Rukun Warga kumuh di Jakarta berkurang lebih dari separuhnya dalam kurun sembilan tahun terakhir. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkap angkanya turun dari 445 menjadi 211 RW berdasarkan survei terbaru 2026.
Pramono menyebut penurunan tersebut tidak lepas dari peran kader-kader Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) yang konsisten mendukung program penataan lingkungan Pemprov DKI hingga tingkat RW.
"Di Jakarta itu tahun 2017 RW kumuhnya jumlahnya 445 RW kumuh berdasarkan survei nasional. Kemarin di survei terakhir di tahun ini, tahun 2026, RW kumuhnya turun drastis menjadi 211 RW kumuh," ujar Pramono saat meresmikan kantor Sekretariat Pimpinan Wilayah (PW) Muslimat NU DKI di Jakarta Timur, Selasa (7/7).
Ia menegaskan Muslimat NU memiliki peran penting sebagai ujung tombak Pemprov DKI di level paling bawah. Keterlibatan kadernya dinilai menjadi salah satu kekuatan dalam pelaksanaan program pemerintah secara langsung di permukiman.
"Terus terang tanpa disadari, kaki tangan utama Pemerintah DKI Jakarta salah satunya sebenarnya Muslimat," ujarnya.
Pramono merinci, kader Muslimat NU selama ini aktif di berbagai wadah kemasyarakatan. Kehadiran mereka dinilai dominan mulai dari Dasawisma, PKK, Dawis, hingga Jumantik.
"Dasawisma rata-rata Muslimat, PKK Muslimat, Dawis Muslimat, Jumantik juga Muslimat," imbuhnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Jakarta Barat mencatat penurunan RW kumuh di Jakarta mencapai 52,58% sejak 2017. Angka tersebut dihitung dari total 2.749 RW yang tersebar di seluruh Jakarta, dengan data 2025 yang difinalisasi pada 2026.
Pramono turut menyinggung momentum Jakarta yang akan memasuki usia lima abad pada 2027. Ia menekankan pentingnya memperkuat harmoni sosial dan kehidupan keagamaan sebagai fondasi pembangunan kota ke depan.
"Saya berharap ikatan moral dan nilai-nilai keagamaan di tengah masyarakat semakin kuat," pungkas Pramono.
Tinggalkan Komentar
Komentar