periskop.id - Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) atau logam mulia diperkirakan bergerak menguat pada perdagangan pekan depan, dengan potensi kenaikan hingga menyentuh Rp3.150.000 per gram. Prospek tersebut mengikuti peluang penguatan harga emas dunia yang dipicu sentimen geopolitik dan dinamika politik Amerika Serikat.
Pada penutupan Sabtu pagi, harga emas dunia tercatat di level US$5.103 per troy ounce, sementara harga logam mulia domestik berada di Rp3.012.000 per gram.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi menjelaskan, jika harga emas dunia melemah, level support pertama berada US$di 5.045 per troy ounce dengan harga logam mulia domestik berpotensi turun ke Rp2.950.000 per gram.
“Kalau harga turun, support pertama di US$5.045 per troy ounce dan logam mulianya di Rp2.950.000 per gram,” ujarnya.
Ia menambahkan, apabila koreksi berlanjut, support kedua berada di level US$4.953 per troy ounce, dengan harga emas Antam berpotensi turun ke Rp2.900.000 per gram.
Namun sebaliknya, apabila harga emas dunia menguat, resistance pertama diperkirakan berada di level 5.178 yang dapat mendorong harga logam mulia ke Rp3.052.000 per gram, bahkan berpeluang terjadi pada awal pekan.
“Kalau naik, resisten pertama di 5.178 dan logam mulianya sekitar Rp3.052.000 per gram, itu bisa terjadi hari Senin,” jelasnya.
Untuk akhir pekan, resistance kedua diproyeksikan berada di level US$5.263 per troy ounce, dengan harga emas domestik berpotensi mencapai Rp3.150.000 per gram.
“Sampai Jumat atau Sabtu pagi, resisten kedua di 5.263 dan logam mulianya bisa Rp3.150.000 per gram. Ada kemungkinan kenaikan sekitar Rp138.000 dalam minggu depan,” ujarnya.
Sentimen Geopolitik dan Politik AS
Menurut Ibrahim, penguatan harga emas dunia dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik di Timur Tengah. Ia menyoroti komunikasi intens antara Israel dan Amerika Serikat terkait kemungkinan serangan terhadap Iran, serta pengerahan dua kapal induk AS ke kawasan tersebut.
“Kemungkinan perang ini cukup lama dan bisa mengganggu pasokan minyak mentah dunia. Kalau minyak terganggu, harga minyak naik, turunannya naik dan terjadi inflasi. Inflasi inilah yang mendorong harga emas kembali naik,” katanya.
Dari sisi politik Amerika Serikat, ia menilai situasi juga memanas setelah Mahkamah Agung memutuskan bahwa Presiden Donald Trump tidak memiliki kewenangan menggunakan Undang-Undang Kekuasaan Ekonomi Darurat Internasional untuk menerapkan tarif perang dagang.
“Mahkamah Agung memutuskan 6 banding 3 bahwa perang dagang yang dilakukan Trump ilegal karena menggunakan undang-undang darurat,” ujarnya.
Selain itu, pasar juga menanti keputusan lanjutan Mahkamah Agung terkait sejumlah kebijakan lain yang berpotensi memicu ketidakpastian politik di Negeri Paman Sam.
Kebijakan The Fed dan Faktor Supply
Dari sisi kebijakan moneter, Ibrahim menilai meski data tenaga kerja dan inflasi Amerika Serikat menunjukkan perbaikan, terdapat indikasi Bank Sentral AS akan menurunkan suku bunga dua kali.
“Kalau suku bunga turun, dolar melemah dan itu positif untuk emas,” katanya.
Ia juga menyoroti faktor fundamental dari sisi pasokan. Menurutnya, permintaan emas global masih tinggi sementara produksi terbatas. Bahkan, sejumlah perusahaan tambang dunia diperkirakan menghadapi keterbatasan cadangan dalam beberapa tahun mendatang.
“Permintaan tinggi tapi barangnya sedikit. Ini yang bisa membuat harga emas dunia terus mengalami kenaikan,” ujarnya.
Dengan kombinasi sentimen geopolitik, dinamika politik AS, potensi penurunan suku bunga, serta faktor supply-demand, harga emas Antam diperkirakan masih berpeluang melanjutkan tren penguatan pada pekan depan.
Tinggalkan Komentar
Komentar