periskop.id - Upaya memperkuat infrastruktur energi nasional mulai menarik minat investor global. Konglomerasi energi asal India, Essar Group, disebut tengah menjajaki peluang investasi pembangunan fasilitas penyimpanan minyak (storage) di Indonesia.

Informasi tersebut diungkap Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, yang menyebut komunikasi awal antara calon investor dan pemerintah telah berlangsung. Bahkan, penjajakan tersebut berlanjut hingga kunjungan langsung ke fasilitas kilang Pertamina.

Simon mengatakan perwakilan Essar Group sebelumnya datang bersama tim dari Menteri Investasi/Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia, untuk melihat langsung potensi pengembangan storage di salah satu kilang Pertamina.

“Waktu itu kami juga sudah bertemu dengan tim Pak Menteri, yaitu dari Essar Group salah satunya. Mereka sedang melakukan penjajakan dan kemarin sudah berkunjung ke lokasi kilang kami yang ada di Plaju untuk melihat potensi kerja sama pembangunan storage tambahan,” kata Simon.

Kunjungan tersebut menjadi sinyal awal bahwa investor mulai melirik proyek penguatan infrastruktur energi Indonesia, khususnya di sektor penyimpanan minyak yang selama ini dinilai masih terbatas.

Simon menegaskan, Pertamina pada prinsipnya membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mempercepat pembangunan fasilitas storage. Menurutnya, peningkatan kapasitas penyimpanan menjadi kebutuhan strategis dalam menjaga ketahanan pasokan energi nasional.

“Kami tentunya membuka peluang bekerja sama dengan pihak mana pun untuk mendorong agar kapasitas storage kita bisa bertambah,” ujarnya.

Isu keterbatasan storage memang kerap menjadi sorotan dalam diskursus ketahanan energi nasional.

Diberitakan oleh Periskop sebelumnya (3/3), kapasitas penyimpanan bahan bakar minyak (BBM) Indonesia diperkirakan hanya mampu menopang kebutuhan sekitar 20 hingga 25 hari konsumsi. Angka tersebut relatif kecil jika dibandingkan dengan sejumlah negara lain yang memiliki cadangan energi strategis hingga beberapa bulan.

“Yang kedua terkait persoalan minyak kita, yang 20 hari sekarang 23 hari, memang standar nasional kita. Storage kita harus dibangun dulu, Pak. Kalau Bapak bikin 240 hari, makanya kita sekarang mau bangun storage untuk minimal 3 bulan,” ujar Bahlil.

Oleh karena itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menargetkan peningkatan kapasitas cadangan energi nasional hingga sekitar 90 hari konsumsi. Target ini dipandang penting untuk memperkuat daya tahan pasokan energi nasional di tengah volatilitas pasar energi global dan risiko gangguan distribusi.

Dalam konteks tersebut, minat investasi dari Essar Group dinilai dapat membuka peluang baru untuk mempercepat pembangunan infrastruktur penyimpanan minyak di dalam negeri. Meski demikian, rencana kerja sama tersebut masih berada pada tahap penjajakan awal dan belum masuk ke fase keputusan investasi.