Periskop.id - Anggota Komisi VI DPR RI Rivqy Abdul Halim mendesak pemerintah aktif memantau pergerakan harga minyak mentah dunia menyusul penandatanganan nota kesepahaman (MoU) perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Ia juga meminta pemerintah merefleksikan perubahan harga minyak global itu ke dalam kebijakan energi nasional, termasuk penetapan harga bahan bakar minyak (BBM).

Rivqy menegaskan, jika tren harga minyak global terus terkoreksi, masyarakat semestinya turut merasakan dampaknya melalui penyesuaian harga BBM di dalam negeri.

Advertisement

"Apabila tren harga minyak turun dan faktor-faktor pembentuk harga BBM memungkinkan, maka masyarakat juga berhak menikmati penurunan harga BBM di dalam negeri," ujar Rivqy dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, dikutip Sabtu (20/6).

Rivqy juga menekankan pentingnya keterbukaan pemerintah apabila harga BBM tidak kunjung turun meski harga minyak global melemah. Menurutnya, pemerintah perlu memberi penjelasan terbuka kepada publik atas kondisi tersebut.

"Kalau masih ada faktor negatif yang membuat ruang penurunan harga BBM terbatas, silakan disampaikan secara terbuka. Namun, seluruh kebijakan harus tetap berada dalam koridor yang berkeadilan dan berpihak kepada kepentingan masyarakat luas," katanya.

Rivqy juga mendorong pemerintah mempercepat langkah-langkah strategis menuju kemandirian energi nasional. Ia merinci tiga prioritas yang perlu diakselerasi, yakni peningkatan produksi migas domestik, optimalisasi eksplorasi dan eksploitasi sumber daya energi, serta penguatan investasi di sektor energi.

Urgensi percepatan itu, menurut Rivqy, dipicu oleh besarnya ketergantungan sektor energi Indonesia terhadap dinamika global yang sulit diprediksi.

"Perkembangan di belahan dunia lain, mulai dari konflik, ketegangan politik, hingga kesepakatan antarnegara, bisa langsung berdampak pada harga energi yang dirasakan masyarakat Indonesia. Ini menunjukkan bahwa sektor migas kita masih sangat dipengaruhi oleh dinamika global," ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada Kamis (18/6) juga angkat bicara soal perkembangan hubungan AS-Iran. Ia menyebut pemerintah masih mencermati dampak MoU perdamaian kedua negara, terutama terhadap potensi penyesuaian harga BBM nonsubsidi di dalam negeri.

Di sisi data, harga minyak Brent dalam sepekan terakhir terpantau melemah signifikan. Komoditas itu sempat bertengger di atas US$90 per barel, namun kini tergerus ke bawah US$80 per barel seiring meredanya kekhawatiran pasar atas gangguan pasokan energi global pasca tercapainya kesepakatan perdamaian AS-Iran.