Periskop.id - Harga minyak dunia nyaris tidak bergerak sepanjang pekan ini, dengan Brent dan WTI hanya mencatat kenaikan tipis pada perdagangan Jumat (4/7). Pelaku pasar masih menahan langkah sembari menunggu kejelasan hasil perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Berdasarkan data dari Yahoo Finance, minyak Brent ditutup naik 14 sen atau 0,19% ke level US$71,94 per barel. Secara mingguan, harga acuan global itu hanya terkoreksi sekitar 5 sen dibandingkan penutupan pekan sebelumnya.

Analis Citi menilai proses negosiasi kedua negara masih berjalan di atas pijakan yang goyah. "Proses negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran masih rapuh, tetapi hingga saat ini tetap berjalan. Persoalan mengenai tarif dan pengelolaan Selat Hormuz masih menjadi isu yang diperdebatkan," tulis analis Citi dalam catatan riset yang dikutip Yahoo Finance, Jumat (4/7).

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turut menguat 9 sen atau 0,13% ke posisi US$68,78 per barel. Perdagangan berlangsung relatif sepi karena pasar keuangan Amerika Serikat tutup menjelang libur Hari Kemerdekaan AS.

Sehari sebelumnya, harga Brent dan WTI sempat menyentuh level terendah sejak sebelum pecahnya perang antara AS dan Israel melawan Iran pada akhir Februari. Analis Commerzbank menilai optimisme investor terhadap pembukaan kembali secara penuh Selat Hormuz terus menguat seiring berlanjutnya perundingan.

Meski begitu, Citi mengingatkan bahwa nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) yang telah ditandatangani belum sepenuhnya aman dari risiko. "Kami memperkirakan nota kesepahaman tersebut akan tetap berlaku, bukan karena kedua pihak tiba-tiba saling percaya, melainkan karena tidak ada insentif yang menguntungkan bagi keduanya untuk melanggarnya," lanjut analis Citi.

Di lapangan, aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz berangsur pulih sesuai kesepakatan awal AS dan Iran. Namun, ketidakpastian masih membayangi setelah kedua negara saling melancarkan serangan pada akhir pekan lalu, menyusul insiden serangan Iran terhadap sebuah kapal kargo.

Seiring membaiknya arus pelayaran, negara-negara produsen di kawasan Teluk mulai mendongkrak produksi. Berdasarkan survei Reuters, produksi minyak anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) pada Juni melonjak sekitar 3,3 juta barel per hari dibandingkan bulan sebelumnya.

Kuwait mencatat lonjakan paling mencolok, dari 580.000 barel per hari pada Mei menjadi 1,65 juta barel per hari pada Juni. Sedikitnya lima kapal tanker raksasa yang membawa total sekitar 10 juta barel minyak asal Arab Saudi juga dilaporkan telah meninggalkan Selat Hormuz, sementara Saudi Aramco mulai beralih ke penjualan di pasar spot untuk mempercepat distribusi ke Asia.

Pendiri Commodity Context, Rory Johnston, menyebutkan pemulihan pasokan dari kawasan itu melampaui ekspektasi awal. Membanjirnya pasokan turut mendorong perubahan struktur pasar dari backwardation ke contango, yakni kondisi di mana harga kontrak berjangka diperdagangkan lebih tinggi daripada harga untuk pengiriman segera, sinyal bahwa kekhawatiran atas kekurangan pasokan jangka pendek mulai mereda.

"Secara keseluruhan, pemulihan pasokan dari Timur Tengah berlangsung lebih cepat daripada perkiraan awal kami, sementara permintaan impor dari China masih lemah," pungkas Rory Johnston.