Periskop.id - Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu (1/7) setelah Iran menolak bertemu langsung dengan delegasi Amerika Serikat. Penolakan itu memperparah kekhawatiran pasar atas rapuhnya gencatan senjata antara kedua negara.
Berdasarkan data Reuters, minyak Brent naik 50 sen atau 0,69% ke US$73,45 per barel pada pukul 12.08 GMT. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turut terkerek 63 sen atau 0,91% ke US$70,13 per barel.
Di tengah situasi ini, Wakil Presiden AS JD Vance menegaskan posisi Washington soal Selat Hormuz. "Situasi ini tidak akan berakhir dengan Iran memungut biaya dari kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz," ujarnya dalam wawancara dengan The Michael Knowles Show.
Vance juga menyampaikan, arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz telah kembali ke level sebelum perang. Pernyataan itu menjadi salah satu sinyal yang turut memengaruhi pergerakan harga di pasar energi global.
Sementara itu, utusan Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, bersama menantu Trump, Jared Kushner, tiba di Doha, Qatar, untuk mengikuti perundingan tingkat tinggi terkait konflik yang sudah berlangsung selama empat bulan. Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani menjadi salah satu pejabat yang menemui keduanya.
Namun, pemerintah Iran dan Qatar menyatakan Teheran tidak akan hadir dalam pertemuan langsung dengan delegasi AS. Pembahasan berlangsung lewat jalur mediator, bukan tatap muka.
Penguatan harga minyak juga ditopang kabar turunnya stok minyak mentah di AS. Menurut sumber pasar yang merujuk data American Petroleum Institute (API), cadangan minyak mentah AS berkurang sekitar 6,1 juta barel pada pekan yang berakhir 26 Juni. Persediaan bensin dilaporkan ikut menyusut.
Pasar kini menantikan data resmi dari Energy Information Administration (EIA) yang dijadwalkan rilis Rabu waktu setempat. Angka EIA akan menjadi acuan terbaru kondisi permintaan energi di negara konsumen minyak terbesar dunia itu.
Lonjakan harga ini terjadi setelah minyak dunia mencatat penurunan tajam sepanjang kuartal II 2026 seiring meredanya ketegangan di Timur Tengah. Brent anjlok sekitar US$45 per barel selama kuartal tersebut, menjadi koreksi kuartalan terdalam sejak krisis keuangan global 2008. WTI tergerus sekitar US$31 per barel, penurunan paling dalam sejak pandemi Covid-19 pada 2020.
Pembukaan kembali Selat Hormuz dinilai mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan jangka panjang. Jajak pendapat Reuters yang dirilis Selasa (30/6) mencatat para analis untuk pertama kalinya memangkas proyeksi harga minyak tahun 2026 sejak perang Iran dimulai.
Tinggalkan Komentar
Komentar