periskop.id - Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) tengah mengusut dugaan penganiayaan berat terhadap seorang warga negara Indonesia (WNI) oleh sindikat tambang timah ilegal di Malaysia. Saat ini, Polri sedang mengupayakan koordinasi untuk mengevakuasi korban agar segera dipulangkan ke Indonesia.

Direktur Tindak Pidana Tertentu (Dittipidter) Bareskrim Polri, Brigadir Jenderal Polisi Mohammad Irhamni, mengonfirmasi bahwa langkah penyelamatan ini melibatkan kerja sama lintas divisi dan atase kepolisian.

“Dittipidter sedang melakukan koordinasi untuk upaya penyelamatan dan evakuasi dengan Divhubinter (Divisi Hubungan Internasional Polri), serta Atase Kepolisian Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Malaysia,” kata Mohammad Irhamni dalam keterangannya, Minggu (17/5).

Kasus ini terungkap setelah Atase Polri (Atpol) KBRI Kuala Lumpur menerima laporan pada 16 Mei 2026 mengenai dugaan penyekapan dan penganiayaan terhadap WNI asal Prabumulih, Sumatera Selatan, berinisial DC. Korban dilaporkan mengalami luka fisik cukup parah akibat kekerasan oleh sindikat tersebut.

“Berdasarkan laporan awal, korban mengalami patah kaki serta cedera pada bagian tangan dan kepala akibat kekerasan yang diduga dilakukan oleh pelaku penyelundupan timah ilegal,” jelas Irhamni.

Proses penyelamatan sempat melibatkan koordinasi antarwilayah hukum di Malaysia. Awalnya, Atpol KBRI Kuala Lumpur berkoordinasi dengan Ibu Pejabat Polis Daerah (IPD) Kuala Langat.

Namun, setelah dilakukan pengecekan ulang, lokasi kejadian dipastikan berada di wilayah hukum IPD Sepang. Otoritas setempat kemudian mengerahkan Balai Polis Sungai Pelek untuk melakukan tindakan penyelamatan hingga akhirnya DC berhasil dievakuasi.

Berdasarkan keterangan awal, DC mengaku menjadi korban bujuk rayu sindikat tersebut untuk datang ke Malaysia. Ia dipaksa membawa timah dari Indonesia. Namun, alih-alih mendapatkan pekerjaan atau keuntungan yang dijanjikan, DC justru mengalami penganiayaan setibanya di Malaysia.

Hingga saat ini, Polri terus memantau perkembangan kondisi kesehatan korban dan melakukan koordinasi lebih lanjut untuk memastikan seluruh proses evakuasi berjalan lancar.