Periskop.id - Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, mengungkapkan terdapat tiga Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) berbasis industri manufaktur yang mengajukan perluasan lahan dan pengembangan kawasan. Ketiga KEK tersebut yakni KEK Gresik, KEK Kendal, dan KEK Galang Batang.

‎Menurut Susiwijono, pengajuan perluasan tersebut rata-rata mencapai dua kali lipat dari luas kawasan yang ada saat ini. Hal itu dilakukan karena kapasitas kawasan yang tersedia telah terisi penuh oleh investasi yang masuk.

‎"Jadi ada permohonan perluasan lahan dan pengembangan kawasan, rata-rata 2 kali lipat yang ada sekarang. Kenapa? Karena yang ada sekarang sudah full utilized," kata Susiwijono kepada media, Jakarta, Senin (6/7).

‎Ia menjelaskan, tingginya tingkat okupansi di kawasan tersebut menyebabkan sejumlah investor baru yang telah menyatakan minat untuk berinvestasi harus menunggu ketersediaan lahan. Oleh karena itu, pemerintah saat ini tengah mempersiapkan perluasan kawasan maupun pengembangan area baru di sejumlah KEK.

‎Susiwijono mengungkapkan, potensi investasi yang telah dikonfirmasi untuk masuk ke kawasan-kawasan tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp846 triliun dalam beberapa tahun mendatang.

‎"Itu membuktikan bahwa untuk investasi yang betul-betul real investasi di industri manufaktur, masih sangat menjanjikan di Indonesia. Iklim investasi di Indonesia masih sangat kondusif, dan masih sangat menarik bagi investasi secara langsung, foreign direct investment, khususnya di industri manufaktur. ," tegasnya. 

‎Selain sektor manufaktur, Susiwijono menyebut sektor jasa juga menunjukkan perkembangan positif. Hal itu ditandai dengan masuknya sejumlah institusi pendidikan internasional ke Kawasan Ekonomi Khusus, khususnya di sektor pendidikan dan kesehatan.

Selain sektor manufaktur, tingginya minat investasi juga terlihat di sektor jasa. Hal itu ditunjukkan dengan rencana IAMB dari Bangalore untuk membuka program di KEK Kesehatan Sanur, melengkapi sejumlah institusi pendidikan internasional yang telah lebih dulu masuk, seperti King's College London, serta rencana kehadiran institusi global lainnya, termasuk Liverpool dan Imperial College London.

‎"Jadi beberapa sudah di pipeline, tinggal nanti kita implementasikan," tutupnya.