Periskop.id - Infrastruktur pada hakikatnya merupakan sebuah benang tak terlihat yang bertugas menyatukan seluruh elemen di dalam sebuah negara.
Berdasarkan data terbaru yang dipublikasikan oleh US News & World Report mengenai perkembangan global, negara-negara yang berada di peringkat atas terbukti sangat ahli dalam membangun koneksi yang kuat, menyediakan jaringan internet dengan kecepatan super cepat, memastikan pasokan listrik yang andal, hingga menghadirkan sistem transportasi umum yang berjalan dengan lancar.
Tidak hanya fokus pada teknologi modern, investasi fisik ini juga berkomitmen penuh untuk memastikan kebutuhan dasar warga negara seperti akses air bersih dapat terpenuhi dengan baik, sembari terus mendorong batasan dalam hal keamanan digital serta kemudahan akses informasi bagi publik.
Untuk mengukur dan menentukan tingkat kelayakan ini, perhitungan Indeks Infrastruktur dunia dirumuskan secara adil. Formula penilaian tersebut didasarkan pada rata-rata tertimbang yang sama dari empat subkategori utama yang meliputi pemenuhan Kebutuhan Dasar, tingkat Konektivitas Digital, kualitas Keamanan Energi dan Iklim, serta kecanggihan sektor Transportasi.
Kombinasi seimbang dari keempat aspek inilah yang menjadi tolok ukur utama dalam menilai kemajuan fasilitas suatu negara.
Dominasi Singapura dan Peta Persaingan Papan Atas ASEAN
Melihat data di wilayah Asia Tenggara atau ASEAN, peta pembangunan memperlihatkan performa yang sangat bervariasi antarnegara anggotanya. Singapura sukses menasbihkan dirinya sebagai raja diraja dalam urusan pembangunan dengan menduduki peringkat pertama di ASEAN sekaligus menempati peringkat nomor satu di seluruh dunia pada 2026.
Negara tetangga ini berhasil mengantongi nilai Indeks Infrastruktur yang luar biasa tinggi, yaitu mencapai angka 88,7.
Berada di posisi kedua untuk tingkat regional, Malaysia juga menunjukkan taji dengan berhasil menembus peringkat 34 di tingkat dunia serta mengamankan nilai Indeks Infrastruktur sebesar 72,6.
Sementara itu, posisi ketiga di kawasan Asia Tenggara ditempati oleh Thailand yang berada di peringkat 50 dunia dengan perolehan indeks sebesar 68,1.
Tepat di bawahnya, Vietnam menguntit dengan sangat ketat di posisi keempat regional dan peringkat 52 global dengan mengumpulkan nilai Indeks Infrastruktur sebesar 67,4.
Rapor Indonesia dan Jajaran Negara Papan Bawah
Indonesia sendiri rupanya berada di peringkat kelima di tingkat regional ASEAN. Di kancah internasional, posisi Indonesia berada di peringkat 69 dunia dengan mengantongi nilai Indeks Infrastruktur sebesar 58,1.
Rapor Indonesia ini terpaut tipis di atas Filipina yang berada di peringkat keenam regional dan peringkat 78 dunia dengan perolehan indeks sebesar 56,1.
Memasuki zona tiga terbawah di ASEAN, Laos menempati urutan ketujuh regional serta peringkat 89 dunia dengan nilai indeks 48,8. Posisi kedelapan dihuni oleh Kamboja yang bertengger di peringkat 91 dunia dengan angka Indeks Infrastruktur sebesar 46,4.
Sementara itu, posisi juru kunci atau peringkat kesembilan di kawasan Asia Tenggara diisi oleh Myanmar yang terpuruk di peringkat 96 dunia dengan nilai indeks yang hanya menyentuh angka 36,2.
Membedah Data Spesifik Indikator Fasilitas Antarnegara
Jika membedah informasi tambahan yang disajikan dalam riset tersebut, masyarakat awam dapat melihat secara transparan mengapa kesenjangan kualitas ini bisa terjadi. Singapura menunjukkan kelasnya dengan cakupan sanitasi dasar yang telah mencapai angka sempurna yaitu 100%.
Kecepatan internet broadband di Singapura juga luar biasa kencang karena melesat di angka 420,9 Mbps, meskipun mereka memiliki ketergantungan yang tinggi pada luar negeri dengan angka impor energi mencapai 279,6% dari total penggunaan energi mereka.
Di peringkat selanjutnya, Malaysia menorehkan catatan yang tidak kalah impresif, di mana cakupan sanitasi dasarnya sudah menyentuh angka 96,0%.
Kecepatan internet broadband di negeri jiran ini berada di angka 166,2 Mbps, dan mereka memiliki ketahanan energi yang sangat mandiri dengan angka impor energi yang berada di persentase minus 0,6% dari total penggunaan energi mereka.
Kemudian, Thailand mencatatkan cakupan sanitasi dasar yang juga sangat tinggi sebesar 99,4%, dengan kecepatan internet broadband berada di angka 273,8 Mbps, serta angka impor energi sebesar 57,5% dari keseluruhan total penggunaan energi dalam negerinya.
Di sisi lain, Indonesia terpantau masih memiliki banyak pekerjaan rumah yang besar untuk mengejar ketertinggalan. Catatan indikator menunjukkan bahwa cakupan sanitasi dasar di Indonesia baru menyentuh angka 88,2%.
Urusan konektivitas digital juga menjadi sorotan tajam karena kecepatan internet broadband di Indonesia terpantau paling lambat di antara tiga negara teratas di kawasan ASEAN, yaitu hanya sebesar 45,4 Mbps.
Kendati demikian, Indonesia memiliki keunggulan mutlak yang sangat luar biasa dalam hal kedaulatan dan pasokan energi alami, di mana angka impor energi Indonesia mencatatkan persentase minus -89,5% dari total penggunaan energi, yang menandakan bahwa Indonesia merupakan negara eksportir energi yang sangat kaya dan mandiri.
Perbandingan Kualitas Infrastruktur ASEAN 2026
Agar dapat melihat visualisasi perbandingan peta kekuatan fasilitas dan infrastruktur di kawasan Asia Tenggara secara mudah, berikut adalah tabel rincian data lengkapnya:
| Peringkat ASEAN | Negara | Peringkat Dunia | Indeks Infrastruktur |
|---|---|---|---|
| 1 | Singapura | 1 | 88,7 |
| 2 | Malaysia | 34 | 72,6 |
| 3 | Thailand | 50 | 68,1 |
| 4 | Vietnam | 52 | 67,4 |
| 5 | Indonesia | 69 | 58,1 |
| 6 | Filipina | 78 | 56,1 |
| 7 | Laos | 89 | 48,8 |
| 8 | Kamboja | 91 | 46,4 |
| 9 | Myanmar | 96 | 36,2 |
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar