periskop.id – Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah Indonesia mengirimkan pasukan penjaga perdamaian dalam jumlah besar ke Gaza. Pengiriman ribuan personel militer ini bertujuan mendukung misi Pasukan Stabilisasi Internasional di wilayah konflik tersebut.

“Kami menegaskan kembali komitmen kami untuk menyumbangkan sejumlah besar pasukan, hingga 8.000 atau lebih jika diperlukan,” kata Prabowo. Pernyataan ini disampaikan saat berpidato dalam Inaugural Meeting of Board of Peace di Amerika Serikat, Kamis (19/2).

Kepala Negara menjelaskan pasukan Indonesia siap mengambil peran aktif di lapangan. Kehadiran mereka diharapkan mampu mewujudkan serta menjaga perdamaian abadi bagi rakyat Palestina.

"Kami siap menyumbangkan pasukan untuk mengambil bagian aktif dalam Pasukan Stabilisasi Internasional untuk mewujudkan perdamaian ini," ujarnya.

Langkah strategis ini merupakan wujud dukungan nyata Indonesia terhadap inisiatif perdamaian global. Prabowo menyatakan persetujuan penuh atas rencana perdamaian usulan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Pemerintah Indonesia telah mengkaji skema Rencana 20 Poin (20-Point Plan) sejak rancangan tersebut pertama kali diluncurkan. Skema perdamaian ini dinilai sejalan dengan visi penyelesaian konflik di Timur Tengah.

"Kami sepenuhnya setuju dan kami berkomitmen penuh pada rencana ini dan itulah sebabnya kami bergabung dengan Board of Peace," ucapnya.

Presiden menyadari misi pengamanan ini akan menghadapi berbagai tantangan berat di lapangan. Kondisi pascakonflik di Jalur Gaza membutuhkan penanganan ekstra dan kerja sama multinasional secara komprehensif.

Meski penuh rintangan, pemerintah menaruh optimisme tinggi terhadap kepemimpinan forum Board of Peace. Prabowo meyakini visi perdamaian nyata di tanah Palestina dapat segera tercapai secara permanen.

Pencapaian kesepakatan gencatan senjata saat ini dinilai sebagai langkah awal yang sangat krusial. Indonesia mengapresiasi keberhasilan diplomatik tersebut dan siap terjun langsung mengawal masa transisi.

Rencana pengiriman 8.000 personel ini akan menjadi salah satu pengerahan pasukan terbesar dalam sejarah operasi perdamaian Indonesia. Persiapan matang akan segera dilakukan guna memastikan kesiapan operasional para prajurit di medan tugas.