periskop.id - Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memasuki hari ketujuh dengan intensitas serangan udara yang semakin meningkat. Ibu kota Iran, Teheran, kembali diguncang ledakan besar pada Kamis malam hingga Jumat pagi waktu setempat, sementara jumlah korban tewas akibat serangan tersebut terus bertambah.
Mengutip Al Jazeera, gelombang serangan terbaru menghantam sejumlah titik di Teheran, termasuk kawasan permukiman dan area sekitar Universitas Teheran. Ledakan besar terdengar sejak dini hari dan diikuti kepulan asap tebal yang terlihat dari berbagai penjuru kota.
Koresponden Al Jazeera di Teheran, Tohid Asadi, mengatakan intensitas serangan kali ini lebih berat dibandingkan hari-hari sebelumnya. Ia melaporkan bahwa gelombang serangan besar berlangsung terus-menerus sejak pagi hari.
“Sejak dini hari hingga pagi ini kami menyaksikan gelombang serangan besar yang terus berlanjut,” kata Asadi, Jumat (6/3).
Ia menambahkan, getaran ledakan bahkan dapat dirasakan hingga ke kantor biro Al Jazeera di ibu kota Iran.
Menurutnya, serangan paling banyak terjadi di wilayah timur dan tenggara Teheran. Ledakan besar terdengar disertai kemunculan jet tempur di langit, sementara asap tebal membumbung tinggi dari sejumlah lokasi yang menjadi sasaran.
Selain lokasi militer, sejumlah fasilitas sipil juga terdampak, termasuk bangunan tempat tinggal, area parkir, hingga stasiun pengisian bahan bakar. Sebuah akademi militer Iran dilaporkan terkena serangan ketika seorang jurnalis televisi pemerintah Iran tengah melakukan siaran langsung di dekat lokasi.
Serangan tidak hanya terjadi di Teheran. Ledakan juga dilaporkan di kota Kermanshah yang dikenal memiliki beberapa pangkalan rudal, serta di kota Shiraz dan Isfahan.
Militer Israel menyatakan telah memulai “gelombang serangan berskala luas” yang menargetkan infrastruktur militer Iran. Israel juga mengklaim sebagian besar sistem pertahanan udara dan peluncur rudal Iran berhasil dihancurkan dalam operasi tersebut.
Sementara itu, militer Amerika Serikat mengonfirmasi keterlibatan pesawat pengebom siluman B-2 dalam serangan tersebut. Kepala Komando Pusat AS (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, mengatakan pesawat itu menjatuhkan puluhan bom penembus seberat sekitar 2.000 pon yang dirancang untuk menghancurkan fasilitas rudal balistik yang tertanam jauh di bawah tanah.
“Kami juga menyerang fasilitas yang setara dengan Komando Antariksa Iran, yang melemahkan kemampuan mereka untuk mengancam warga Amerika,” kata Cooper.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyatakan serangan terhadap Iran kemungkinan akan semakin meningkat dalam waktu dekat. Ia mengatakan militer AS akan menambah skuadron jet tempur, kemampuan serangan, serta sistem pertahanan tambahan.
“Lebih banyak skuadron tempur, lebih banyak kemampuan, lebih banyak pertahanan, dan frekuensi pengebom juga akan meningkat,” ujarnya.
Di tengah eskalasi konflik tersebut, media pemerintah Iran melaporkan sedikitnya 1.230 orang tewas sejak serangan dimulai pada akhir pekan lalu. Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) menyebut sedikitnya 181 anak termasuk di antara korban tewas.
Salah satu insiden paling mematikan terjadi ketika sebuah sekolah perempuan di kota Minab, Iran selatan, terkena serangan pada hari pertama konflik. Garda Revolusi Iran menyebut sedikitnya 175 anak tewas dalam peristiwa tersebut.
Dua pejabat Amerika Serikat yang dikutip kantor berita Reuters menyebut penyelidik militer AS menduga serangan terhadap sekolah tersebut kemungkinan dilakukan oleh pasukan Amerika, meski kesimpulan akhir masih menunggu hasil investigasi. Jika terbukti, serangan terhadap sekolah itu berpotensi menjadi salah satu insiden korban sipil terburuk dalam konflik Timur Tengah dalam beberapa dekade terakhir.
Tinggalkan Komentar
Komentar