periskop.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melontarkan ancaman tajam menargetkan infrastruktur vital Iran jika negara tersebut menolak membuka Selat Hormuz. Pemimpin AS itu mengancam akan membombardir sejumlah pembangkit listrik dan jembatan secara serentak pada hari Selasa.

​"Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik, dan Hari Jembatan, semuanya menjadi satu, di Iran. Tidak akan ada yang seperti ini!!! Buka Selat Sialan itu, kalian bajingan gila, atau kalian akan hidup di Neraka - LIHAT SAJA! Segala puji bagi Allah," tulisnya melalui unggahan di akun Truth Social resmi miliknya pada Senin (6/4).

​Peringatan bernada agresif ini mempertegas eskalasi konflik menyusul ultimatum waktu 48 jam sebelumnya. Washington terus menekan Teheran segera mencabut blokade di jalur pelayaran strategis Timur Tengah tersebut.

​Trump secara spesifik menetapkan hari Selasa sebagai waktu pelaksanaan rencana operasi militernya. Pemilihan target pembangkit listrik dan jembatan mengindikasikan ancaman kelumpuhan infrastruktur sipil secara masif.

​Pernyataan keras ini turut memuat bahasa provokatif dan umpatan kasar yang ditujukan kepada otoritas Iran. Penggunaan diksi hidup di neraka menggambarkan proyeksi keparahan daya rusak serangan kelak.

​Presiden AS itu justru menutup ancaman serangan destruktifnya dengan mengutip ungkapan keagamaan lazim umat Islam. Penulisan kalimat segala puji bagi Allah di akhir ancaman militer tersebut mengundang beragam sorotan tajam.

​Ketegangan militer di kawasan Selat Hormuz terus memicu kekhawatiran global akan pecahnya peperangan terbuka. Jalur perairan sempit ini memegang peran sangat krusial bagi urat nadi distribusi minyak dunia.

​Penutupan akses selat secara permanen otomatis memicu kepanikan luar biasa pada pasar energi internasional. Harga komoditas minyak mentah berpotensi melonjak tak terkendali jika ancaman saling serang ini benar-benar terealisasi.

​Komunitas internasional kini menanti dengan cemas pergerakan armada tempur AS menjelang hari Selasa. Dunia berharap ada intervensi diplomasi darurat guna mencegah bencana kehancuran total di kawasan tersebut.

​Krisis geopolitik ini diyakini telah mencapai titik didih tertinggi sepanjang beberapa dekade terakhir. Semua pihak terus mewaspadai percikan sekecil apa pun di lapangan yang berpotensi menyulut konflik berskala besar.