periskop.id - Utusan Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, menyebut blokade laut di sekitar Selat Hormuz yang dilakukan oleh Amerika Serikat melanggar perjanjian gencatan senjata.
Dia menegaskan, penghentian blokade menjadi syarat mutlak untuk melanjutkan negosiasi damai.
"Blokade angkatan laut AS merupakan pelanggaran gencatan senjata dan harus segera dicabut sebelum negosiasi dapat berlanjut," ujarnya seperti dikutip dari kantor berita IRNA, Jumat (24/4).
Amir bilang, negosiasi berikutnya antara Iran dengan Amerika dapat terselenggara di Islamabad. Syaratnya, Washington wajib mengakhiri blokade laut tersebut terlebih dahulu.
Iravani menekankan Amerika Serikat adalah pihak yang memulai perang melawan Iran. Meski begitu, pihaknya tetap membuka pintu diplomasi.
Iran menyatakan kesiapan untuk menempuh solusi politik. Washington hanya perlu menunjukkan itikad baik untuk kembali ke meja perundingan.
Pihaknya memberikan peringatan keras terkait eskalasi militer. Jika Washington memilih jalur perang, Iran menyatakan kesiapan penuh.
Saat disinggung mengenai prospek dimulainya kembali pembicaraan, ia menyatakan optimisme. Kata dia, kesempatan untuk perdamaian perlu diberikan.
"Kami berharap," ucap Amir.
Konflik bersenjata ini pecah sejak 28 Februari lalu. Saat itu, AS dan Israel melancarkan agresi militer terhadap Iran.
Serangan awal tersebut menewaskan Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Ali Khamenei. Beberapa komandan militer tinggi Iran turut gugur dalam insiden itu.
Saat ini, kedua pihak sedang menjalani masa gencatan senjata selama dua minggu. Kesepakatan ini dimulai pada 8 April lalu.
Pakistan berperan sebagai mediator dalam gencatan senjata tersebut. Proses ini diharapkan menjadi pintu masuk negosiasi permanen untuk mengakhiri perang.
Tinggalkan Komentar
Komentar