periskop.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kesiapannya menemui Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, secara langsung. Pernyataan itu muncul di tengah upaya kedua negara merampungkan perjanjian damai, seiring konflik yang kini telah memasuki bulan keempat.

Trump menegaskan, pintu pertemuan tatap muka dengan pemimpin Teheran itu terbuka lebar, dengan syarat kesepakatan damai lebih dulu berhasil dicapai di meja perundingan.

Advertisement

"Jika kita membuat kesepakatan, ada kemungkinan saya akan bertemu. Saya tidak keberatan dengan hal itu," ujar Trump saat merespons pertanyaan sejumlah wartawan di Ruang Oval Gedung Putih, Washington D.C., Jumat (5/6).

Mojtaba Khamenei naik ke posisi pemimpin tertinggi Iran setelah sang ayah, Ayatollah Ali Khamenei, tewas pada hari pertama pecahnya pertempuran akibat serangan gabungan AS dan Israel. Serangan yang sama juga merenggut nyawa sejumlah anggota keluarga Khamenei lainnya.

Meski begitu, Trump mengaku tetap menaruh ekspektasi positif terhadap sikap profesional pemimpin baru Iran itu.

"Di beberapa kalangan, dia sebenarnya memiliki reputasi yang sangat baik," tambah Trump.

Konflik AS-Iran dinilai telah mengguncang pasar global secara signifikan, memicu lonjakan tajam pada harga minyak mentah sekaligus harga bensin di berbagai negara. Situasi kian diperparah oleh keputusan Iran yang menutup sebagian besar Selat Hormuz sejak awal perang. Padahal, jalur pelayaran strategis itu mengangkut sekitar seperlima dari total pasokan minyak dunia.

Dampaknya langsung terasa di Amerika Serikat. Berdasarkan data Asosiasi Otomotif Amerika (AAA) per Kamis, harga bensin nasional rata-rata melonjak ke kisaran US$4,24 per galon.

Di meja perundingan, AS mengajukan dua tuntutan utama: Iran harus menandatangani perjanjian untuk tidak pernah memproduksi maupun memiliki senjata nuklir, serta segera membuka kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas pelayaran internasional. Pihak Iran, di sisi lain, menuntut penghentian segera permusuhan di seluruh lini pertempuran dan mendesak AS mencabut blokade angkatan lautnya di pelabuhan-pelabuhan Iran.

Proses negosiasi sendiri sempat berjalan di atas tali yang sangat tipis. Pada Senin, media pemerintah Iran mengumumkan tim perundingannya akan menghentikan seluruh proses pembicaraan sekaligus menutup penuh Selat Hormuz.

Situasi berbalik pada Rabu, setelah Trump secara sepihak mengklaim Iran telah melunak dan menyepakati syarat tidak memiliki senjata nuklir. Konflik yang kini berada dalam kondisi gencatan senjata rapuh ini disebut masih menyisakan banyak titik rawan yang bisa sewaktu-waktu memanas kembali.