Periskop.id - Badai ekonomi global akibat konflik bersenjata di Timur Tengah mulai memakan korban di pasar keuangan Asia. Fenomena kesamaan nasib kini terlihat jelas antara mata uang Indonesia dan India. 

Pada Senin (18/5), nilai tukar rupiah terpantau semakin terpuruk hingga menembus angka psikologis 17.600 per dolar Amerika Serikat (AS). Nasib merana yang dialami rupiah ini ternyata juga dialami oleh rupee India yang diprediksi akan kembali menyentuh rekor terendah pada pekan ini.

Ekonomi terbesar ketiga di Asia tersebut kini berada dalam tekanan besar. Rupee telah terjatuh melewati level 96 per dolar AS, yang merupakan rekor terendah sepanjang sejarah setelah mengalami penurunan sebesar 5% sejak perang Iran pecah pada 28 Februari lalu. 

Para investor kini mulai mencemaskan risiko pertumbuhan serta inflasi yang melambung tinggi akibat konflik tersebut.

Faktor Energi dan Geopolitik

Kenaikan harga minyak mentah Brent yang mendekati 110 dolar AS per barel menjadi pemicu utama kenaikan imbal hasil obligasi global. Hal ini diperparah dengan kondisi Selat Hormuz yang secara efektif masih tertutup. 

Padahal, jalur tersebut sangat krusial karena menangani sekitar seperlima dari total arus minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Kenaikan harga minyak menjadi ancaman nyata bagi India yang mengimpor hampir 90% kebutuhan minyak mentahnya. 

Harga energi yang tinggi tidak hanya memicu inflasi, tetapi juga memperlebar defisit transaksi berjalan serta mempersulit perhitungan anggaran pemerintah secara keseluruhan.

“Dalam jangka pendek, meningkatnya tekanan neraca pembayaran harus diserap melalui berbagai instrumen: depresiasi rupee, intervensi valas, insentif arus modal, dan penekanan defisit transaksi berjalan,” kata ekonom J.P. Morgan dalam sebuah catatan resmi, seperti dikutip oleh Reuters, Senin (18/5).

Intervensi Bank Sentral dan Pembatasan Impor

Otoritas moneter India telah mengambil langkah-langkah darurat untuk meredam tekanan terhadap mata uangnya. Salah satu strategi yang diambil adalah memberlakukan pembatasan impor logam mulia. 

Setelah sempat mencabut tarif impor perak dan emas, pemerintah India kini memutuskan untuk membatasi sebagian besar impor perak pada akhir pekan lalu.

Selain itu, bank sentral India aktif melakukan intervensi pasar sekaligus membatasi ukuran posisi devisa terbuka bersih milik perbankan. Para trader memperkirakan pergerakan Rupee pekan ini akan tetap cenderung melemah, dengan intervensi bank sentral sebagai faktor penentu utama untuk mencegah kejatuhan yang terlalu tajam.

“Jika bank sentral mundur dari pasar, USD/INR bisa dengan sangat cepat naik melewati 97 sampai 97,50,” ujar seorang trader di bank milik negara.

Pasar Obligasi yang Kian Lesu

Sektor obligasi India juga tidak luput dari tekanan. Imbal hasil obligasi acuan tenor 10 tahun ditutup pada level 7,0644% pada Jumat lalu, naik 8 basis poin sepanjang pekan. Pergerakan ini menandai kenaikan imbal hasil selama tiga kali dalam kurun waktu empat pekan terakhir.

Gurvinder Singh Wasan, selaku senior fund manager di Baroda BNP Paribas Mutual Fund, menjelaskan bahwa pelemahan mata uang dan kenaikan harga minyak telah menyebabkan pemburukan pada transaksi berjalan, neraca pembayaran, serta defisit fiskal.

Senada dengan hal tersebut, pengamat pasar dari ICICI Prudential Life Insurance memprediksi adanya potensi kenaikan suku bunga di masa depan. 

“Dengan meningkatnya risiko geopolitik, kami memperkirakan imbal hasil obligasi 10 tahun akan menyentuh 7,25% pada paruh pertama tahun fiskal, dengan antisipasi kenaikan suku bunga 50 basis poin pada paruh kedua,” tutur Arun Srinivasan, chief of fixed income lembaga tersebut.

Ketidakpastian ini diperkirakan akan terus berlanjut selama tensi geopolitik di Timur Tengah belum mereda, yang memaksa negara-negara seperti India dan Indonesia untuk terus berjuang menjaga stabilitas ekonomi domestik mereka dari guncangan dolar AS.