Periskop.id – Krisis kesehatan di Jalur Gaza, Palestina, terus memburuk, mengancam nyawa ribuan pasien akibat kekurangan obat-obatan esensial, pasokan medis kritis, serta penundaan ribuan prosedur bedah, menurut sumber medis setempat, Jumat (5/6).
Lebih dari 4.000 pasien kanker dan ribuan pasien cuci darah menghadapi risiko serius karena tidak memperoleh obat-obatan yang vital bagi kelangsungan hidup mereka. Sekitar sepertiga dari obat-obatan esensial dilaporkan habis, termasuk 180 dari 520 obat standar dan 50 dari 97 obat onkologi.
Kekurangan ini juga berdampak pada filter dialisis, benang jahit bedah, dan kateterisasi jantung, memaksa penundaan operasi dan prosedur medis. Secara keseluruhan, lebih dari 11.000 operasi tertunda akibat keterbatasan pasokan dan dana.
Krisis kesehatan ini diperparah oleh kekurangan dana bantuan internasional. Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan hingga pertengahan 2026, dari kebutuhan dana tahunan sebesar US$4,1 miliar untuk Gaza dan Tepi Barat, baru terpenuhi kurang dari 15 persen.
Akibatnya, empat mitra kemanusiaan terpaksa menghentikan distribusi air bersih menggunakan truk tangki, meninggalkan lebih dari 330.000 warga di 250 lokasi berisiko kehilangan akses air minum.
Dana Anak-Anak PBB (UNICEF) mengingatkan kelangkaan air memaksa keluarga menghadapi dilema antara mengonsumsi air atau menggunakannya untuk menjaga kebersihan, meningkatkan risiko penyakit menular.
Distribusi Makanan Harian
Selain itu, distribusi makanan harian menurun drastis dari 1,5 juta porsi pada pertengahan Maret menjadi 678.000 porsi per hari. Layanan lain yang terdampak termasuk pendidikan, pemulihan sektor pertanian, serta ruang aman bagi perempuan dan anak perempuan.
“Semakin banyak layanan terhenti tanpa tambahan pendanaan, pekerja kemanusiaan mendesak para donor untuk segera meningkatkan dukungan. Negara-negara anggota PBB juga didesak mendorong penghapusan pembatasan Israel yang menghambat bantuan,” kata OCHA.
Di Tepi Barat, pelecehan dan intimidasi sistematis oleh pemukim Israel memaksa 27 keluarga penggembala meninggalkan kawasan mata air Ein Fera’a di Hebron, termasuk tiga penyandang disabilitas dan lebih dari 20 pasien dengan penyakit kronis. UNICEF memberikan bantuan kebutuhan bayi, hiburan, dan perlengkapan kebersihan kepada mereka.
Sejak Januari 2023, lebih dari 6.000 warga Palestina telah terpaksa mengungsi akibat kekerasan pemukim dan pembatasan akses, termasuk lebih dari 2.000 orang sejak awal 2026. OCHA memastikan bantuan tambahan berupa makanan, tenda, peralatan dapur, layanan kesehatan, dan uang tunai tengah dipersiapkan untuk warga terdampak.
“Situasi ini menunjukkan urgensi penanganan krisis kemanusiaan di Gaza dan Tepi Barat, agar layanan kesehatan, air bersih, dan pangan dapat tetap tersalurkan bagi warga yang paling rentan,” kata OCHA.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar