Periskop.id – Militer Amerika Serikat menyelesaikan gelombang serangan udara terhadap Iran untuk malam ke-12 secara berturut-turut. Operasi terbaru menyasar fasilitas penyimpanan rudal dan pesawat nirawak, kemampuan maritim, pos pengawasan pantai, serta sistem pertahanan udara Iran.
Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM menyatakan serangan dilancarkan atas arahan Presiden Donald Trump dan berlangsung selama sekitar lima jam pada Rabu malam waktu setempat.
“Pada pukul 22.30 Waktu Timur AS (09.30 WIB) pada 22 Juli, pasukan CENTCOM telah menyelesaikan serangan baru terhadap Iran untuk malam ke-12 berturut-turut,” menurut pernyataan tersebut.
Sebagai catatan, pukul 22.30 Waktu Timur AS pada 22 Juli setara dengan pukul 09.30 WIB pada Kamis, 23 Juli 2026. CENTCOM tidak memerinci jumlah pesawat, kapal perang, maupun munisi yang digunakan dalam operasi tersebut.
Militer AS mengeklaim serangan diarahkan terhadap sasaran militer yang berkaitan dengan kemampuan Iran mengganggu pelayaran di perairan regional.
“Serangan-serangan tersebut semakin melemahkan kemampuan Iran untuk menyerang pelaut sipil dan kapal-kapal komersial,” ujar CENTCOM.
Klaim kerusakan maupun sasaran yang terkena serangan belum dapat diverifikasi secara independen. Media pemerintah Iran melaporkan serangan AS mengenai sejumlah lokasi di bagian barat negara itu, termasuk kawasan dekat Ahvaz, Ramshir, Andimeshk, dan Shalamcheh. Sedikitnya dua orang dilaporkan tewas dalam serangan di Shalamcheh, dekat perbatasan Irak.
AS Kembali Blokade Pelabuhan Iran
CENTCOM menyebut pasukan AS telah menyerang puluhan lokasi militer Iran sepanjang Juli 2026. Washington juga kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan Iran setelah kesepakatan gencatan senjata sementara kedua negara gagal bertahan.
Sejak blokade dilanjutkan, pasukan AS mengeklaim telah mengalihkan sembilan kapal komersial dan melumpuhkan satu kapal untuk mencegah kendaraan laut memasuki atau meninggalkan pelabuhan Iran.
Lebih dari 50.000 personel militer AS masih ditempatkan di Timur Tengah. CENTCOM menyatakan seluruh pasukan berada dalam kesiagaan tinggi untuk melaksanakan operasi lanjutan.
Persaingan menguasai jalur pelayaran di Selat Hormuz kini menjadi salah satu titik utama konflik. Selat tersebut dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia dalam kondisi normal sehingga gangguan pelayaran berpotensi memengaruhi harga energi global.
Harga minyak mentah Brent telah naik hingga lebih dari US$93 per barel, dari kurang dari US$72 pada awal Juli. Pergerakan kapal di Selat Hormuz juga menurun tajam seiring meningkatnya serangan dan ancaman terhadap kapal komersial.
Iran menyatakan berhak mengatur lalu lintas di selat tersebut dan mengancam akan membalas setiap serangan terhadap wilayah maupun infrastrukturnya. Teheran juga telah menyerang pangkalan dan fasilitas yang berkaitan dengan AS di sejumlah negara kawasan.
Kesepakatan Damai Terancam Gagal
Konflik terbuka bermula pada 28 Februari 2026 ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Teheran kemudian membalas dengan menyerang Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika.
AS dan Iran sempat mencapai kerangka kesepakatan yang dimediasi Pakistan pada pertengahan Juni. Kesepakatan awal tersebut mencakup penghentian operasi militer, pencabutan blokade terhadap pelabuhan Iran, serta pembukaan kembali Selat Hormuz.
Kedua negara juga menyepakati masa perundingan selama 60 hari untuk membahas kesepakatan yang lebih permanen, termasuk program nuklir Iran, pengelolaan Selat Hormuz, dan pencabutan sanksi. Namun, gencatan senjata kembali runtuh pada awal Juli dan serangan harian berlanjut.
Upaya diplomasi hingga kini belum menunjukkan kemajuan berarti. Pakistan dan sejumlah negara kawasan masih berusaha membuka jalur komunikasi, tetapi Washington menilai Teheran belum serius menjalani perundingan. Iran menyatakan diplomasi belum dihentikan dan pertukaran pesan masih berlangsung melalui mediator.
Perang yang telah berlangsung hampir lima bulan itu juga menimbulkan beban besar. Reuters mencatat 18 personel militer AS tewas dan sekitar 430 lainnya terluka. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyebut biaya operasi telah mencapai US$37,5 miliar.
Di Iran dan Lebanon, ribuan orang dilaporkan meninggal dan jutaan lainnya mengungsi sejak konflik dimulai. Angka korban dari masing-masing pihak masih sulit diverifikasi secara menyeluruh di tengah pertempuran yang terus berlangsung.
Dengan berlanjutnya serangan selama 12 malam, prospek pemulihan gencatan senjata semakin tidak pasti. Eskalasi juga berisiko memperluas konflik ke jalur perdagangan lain setelah kelompok Houthi di Yaman mengancam pelayaran menuju pelabuhan Arab Saudi di Laut Merah.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar