Periskop.id - Gelar kuliah dan ijazah sarjana sekian lama dipandang masyarakat sebagai tiket emas untuk meraih kesuksesan karier serta jaminan masa depan yang mapan. Namun, memasuki era modern seperti sekarang, nilai dari pendidikan tinggi tersebut tampaknya mulai mengalami pergeseran yang cukup drastis di mata para pencari kerja. 

Sebuah riset dari Indeed Hiring Lab memberikan sebuah sinyal bahwa permintaan dari para pemberi kerja atau perusahaan terhadap kepemilikan gelar akademik justru mulai menunjukkan tren penurunan.

Advertisement

Kondisi tersebut diperkuat oleh hasil survei daring di Amerika Serikat yang digagas oleh The Harris Poll atas nama Indeed. Survei yang berlangsung pada tanggal 27 sampai 31 Maret 2025 ini melibatkan 772 responden dewasa berusia 18 tahun ke atas yang memiliki latar belakang pendidikan minimal diploma dua atau associate degree

Para peserta survei ini berstatus sebagai pekerja penuh waktu, pekerja paruh waktu, maupun masyarakat yang sedang aktif mencari pekerjaan. Hasil pengumpulan data tersebut mengungkap sebuah fakta menarik bahwa pandangan para pekerja mengenai keuntungan atau timbal balik finansial dari investasi pendidikan tinggi kini menjadi sangat beragam.

Mayoritas Gen Z Mengaku Skeptis dengan Gelar Akademik

Satu hal yang paling mencuri perhatian dari riset ini adalah tingginya tingkat skeptisisme yang ditunjukkan oleh kelompok Generasi Z atau Gen Z dibandingkan dengan kelompok generasi generasi pendahulunya. 

Tercatat ada sebanyak 51% responden dari kalangan Gen Z yang menilai bahwa proses untuk mendapatkan gelar kuliah mereka merupakan sebuah tindakan yang membuang-buang uang.

Angka skeptisisme ini terlihat melonjak sangat tajam jika dibandingkan dengan data dari generasi terdahulu. Sebagai perbandingan, hanya ada 20% dari generasi Baby Boomer yang merasa bahwa kuliah adalah bentuk pemborosan dana. 

Uniknya, persentase pandangan negatif ini terus merangkak naik sekitar 10% pada setiap generasi berikutnya, hingga akhirnya mencapai angka puncaknya di kalangan Gen Z.

Perbedaan sudut pandang yang sangat kontras ini terjadi karena adanya perubahan realitas ekonomi yang nyata. Berdasarkan catatan sejarah ekonomi dari Federal Reserve Bank of San Francisco, sejak tahun 1980 hingga sekitar tahun 2010, kesenjangan pendapatan antara lulusan universitas dengan lulusan sekolah menengah memang sempat melebar sangat jauh. 

Keuntungan finansial berupa gaji yang jauh lebih tinggi bagi para lulusan kuliah ini sering disebut para ekonom sebagai premi upah lulusan perguruan tinggi atau college wage premium. Namun, belakangan ini, fenomena keuntungan upah tersebut dilaporkan mulai mandek dan tidak lagi mengalami kenaikan.

Terjebak Beban Utang Pendidikan yang Menghambat Karier

Di saat keuntungan gaji mulai jalan di tempat, biaya untuk menempuh pendidikan tinggi justru melonjak sangat tajam. Laporan berkala dari U.S. News menyebutkan bahwa biaya kuliah dan biaya operasional lainnya di seluruh universitas di Amerika Serikat selama dua dekade terakhir telah meroket antara 32% hingga 45%.

Kenaikan biaya ini terjadi secara merata, baik di universitas negeri maupun swasta, tanpa memandang lokasi wilayah kampus, bahkan setelah angka tersebut disesuaikan dengan tingkat inflasi mata uang.

Beban finansial yang sangat berat ini pada akhirnya terus membayangi para lulusan universitas, bahkan dalam jangka waktu yang lama setelah mereka menerima ijazah resmi mereka. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa 52% dari total responden mengaku lulus dari tempat kuliah dengan membawa beban utang pendidikan. 

Kelompok Milenial menjadi pihak yang menerima dampak cukup berat, di mana 58% dari mereka yang disurvei masih harus mencicil pinjaman dana pendidikan di tengah perjalanan karier mereka.

Dampak dari utang ini ternyata tidak hanya sebatas pada beban cicilan bulanan yang menguras dompet. Sebanyak 38% responden menyatakan keyakinan mereka bahwa utang dana pendidikan tersebut justru menjadi faktor utama yang menghambat pertumbuhan profesional mereka di dunia kerja, alih-alih menganggap gelar sarjana mereka sebagai sebuah alat bantu. 

Penilaian ini tentu menjadi tamparan keras bagi konsep kuliah yang selama ini diagung-agungkan sebagai batu loncatan menuju kesuksesan. Oleh karena itu, wajar saja jika mereka yang memiliki beban utang pendidikan, yaitu sebesar 41%, cenderung lebih mudah menganggap kuliah sebagai pemborosan uang jika dibandingkan dengan mereka yang beruntung kuliah tanpa utang, yang persentasenya hanya berada di angka 31%.

Fenomena Kejenuhan Ijazah dan Lapangan Kerja yang Terbatas

Selain faktor biaya dan utang, masalah lain dalam perhitungan nilai sebuah gelar kuliah juga dipengaruhi oleh hukum penawaran dan permintaan yang sangat sederhana, yaitu masalah jumlah lulusan yang terlalu banyak. 

Seorang sosiolog bernama Jonathan Horowitz dalam sebuah risetnya mengenai keunggulan relatif sebuah gelar menjelaskan sebuah fenomena penting. Ketika kepemilikan gelar kuliah sudah menjadi hal yang terlalu umum di masyarakat, jumlah ketersediaan lapangan pekerjaan dengan keterampilan tingkat tinggi ternyata tidak lagi mencukupi untuk menampung semua lulusan tersebut. 

Akibatnya, sebagian pekerja yang memiliki pendidikan tinggi terpaksa kalah bersaing dan terdorong untuk mengambil jenis pekerjaan dengan tingkat keterampilan yang lebih rendah.

Kombinasi rumit antara stagnasi kenaikan upah, meroketnya biaya kuliah, tingkat kejenuhan kepemilikan gelar, serta tumpukan utang inilah yang menjadi alasan kuat mengapa generasi muda saat ini semakin kritis dan mempertanyakan apakah kuliah masih menjadi pilihan yang sepadan untuk diambil.

Ketidaksesuaian Antara Teori Kuliah dan Kenyataan di Dunia Kerja

Frustrasi yang dirasakan oleh para pemilik gelar sarjana ini juga diperparah oleh adanya jarak yang lebar antara teori yang dipelajari di kampus dengan realitas dunia kerja. 

Meskipun sebagian besar lulusan mengakui bahwa mereka mendapatkan banyak keterampilan yang berharga selama masa studi, semakin banyak dari mereka yang merasa bahwa pekerjaan mereka saat ini sebenarnya bisa diselesaikan dengan baik tanpa perlu modal ijazah sarjana.

Riset membuktikan bahwa 68% responden dari kalangan Gen Z sangat percaya diri bahwa mereka mampu mengeksekusi pekerjaan mereka tanpa bantuan gelar kuliah. Angka keyakinan ini tercatat sebagai yang paling tinggi jika dibandingkan dengan kelompok Milenial yang berada di angka 64%, Generasi X sebesar 55%, dan Baby Boomer yang hanya sebesar 49%.

Fenomena ini menjadi cerminan nyata dari rasa kecewa yang mendalam dari para pemilik gelar. Mereka telah mengorbankan banyak waktu, tenaga, dan dana yang sangat besar demi mendapatkan sebuah pengakuan akademik, namun di dunia nyata mereka mendapati bahwa keunggulan bersaing yang mereka harapkan dari investasi pendidikan tersebut ternyata sudah berkurang drastis dalam praktik kerja sehari-hari. 

Laporan data dari Federal Reserve Bank of New York juga membenarkan hal tersebut, di mana para lulusan perguruan tinggi baru saat ini harus memasuki pasar kerja dengan kondisi lingkungan yang jauh lebih buruk dan menantang bagi lulusan kampus. 

Faktor inilah yang pada akhirnya terus mengikis keunggulan pendapatan, yang pada masa generasi terdahulu membuat pilihan untuk kuliah tampak sebagai keputusan ekonomi yang paling logis dan menjanjikan.