periskop.id - Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Selasa, 2 Juni 2026. Mata uang Garuda ditutup melemah 34 poin ke level Rp17.839 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di Rp17.805.

Sepanjang sesi perdagangan, rupiah sempat terdepresiasi lebih dalam hingga 85 poin. Namun, tekanan berhasil sedikit mereda menjelang penutupan pasar.

Advertisement

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi oleh penguatan indeks dolar AS. Sentimen eksternal masih menjadi faktor dominan yang membayangi pergerakan rupiah.

“Rupiah ditutup melemah 34 poin di level Rp17.839 dari sebelumnya Rp17.805, setelah sempat tertekan hingga 85 poin sepanjang perdagangan,” ujar Ibrahim dalam keterangan resminya, Selasa (2/6).

Sentimen Eksternal

Dari sisi global, penguatan dolar AS dipicu oleh dinamika geopolitik di Timur Tengah. Pasar merespons perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang masih berlangsung.

Ketidakpastian tersebut berdampak pada distribusi energi global, terutama di kawasan Teluk. Gangguan di jalur strategis seperti Selat Hormuz turut meningkatkan premi risiko di pasar energi.

Selain itu, kebijakan terbaru pemerintah AS terkait tarif impor logam dan alat industri turut memperkuat dolar. Langkah tersebut dinilai mendukung pemulihan sektor manufaktur AS dalam jangka pendek.

Kombinasi faktor geopolitik dan kebijakan ekonomi ini mendorong pelaku pasar beralih ke aset safe haven. Dolar AS menjadi pilihan utama di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Sentimen Domestik

Dari dalam negeri, kondisi fundamental ekonomi relatif stabil dan terjaga. Inflasi Mei 2026 tercatat sebesar 3,08% secara tahunan dengan inflasi bulanan 0,28%.

Aktivitas manufaktur juga menunjukkan perbaikan setelah kembali ke zona ekspansi. PMI manufaktur Indonesia naik ke level 50,0 pada Mei 2026 dari sebelumnya 49,1.

Kinerja eksternal Indonesia juga tetap solid dengan surplus neraca perdagangan yang berlanjut. Secara kumulatif Januari-April 2026, surplus mencapai US$5,64 miliar.

Surplus tersebut menandai keberlanjutan tren positif selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Kondisi ini menjadi penopang bagi stabilitas rupiah di tengah tekanan global.