periskop.id - Nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup menguat terbatas pada perdagangan Jumat, 8 Mei 2026, di tengah penantian pelaku pasar terhadap rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.300 hingga Rp17.340 per dolar AS.

“Untuk perdagangan Jumat, mata uang rupiah diperkirakan fluktuatif namun ditutup menguat dalam rentang Rp17.300 hingga Rp17.340 per dolar AS,” ujarnya, dikutip Jumat (8/6).

Dari sentimen eksternal, arah pergerakan rupiah masih dipengaruhi dinamika dolar AS yang cenderung melemah, seiring meningkatnya ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed.

Pelaku pasar saat ini menanti data ketenagakerjaan AS bulan April yang dinilai krusial dalam menentukan langkah bank sentral AS ke depan. Jika data lebih lemah dari ekspektasi, peluang pelonggaran kebijakan moneter semakin terbuka dan dapat menekan dolar AS.

Namun, ketidakpastian terkait perkembangan negosiasi antara AS dan Iran masih menjadi faktor risiko yang dapat memicu volatilitas di pasar keuangan global.

Dari domestik, isu tekanan fiskal akibat potensi lonjakan subsidi energi serta wacana penyesuaian harga BBM masih menjadi sentimen yang membayangi pergerakan rupiah.

Meski demikian, upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi, termasuk melalui hilirisasi industri dan penguatan produksi dalam negeri, diharapkan mampu menopang ketahanan eksternal Indonesia dalam jangka menengah.