periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Jumat, 13 Maret 2026, ke level Rp16.960 per dolar AS. Pelemahan 67 poin ini terjadi dari penutupan sebelumnya di level Rp16.893, seiring penguatan indeks dolar AS dan lonjakan harga minyak global.

“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 67 point sebelumnya sempat melemah 70 point dilevel Rp.16.960 dari penutupan sebelumnya di level Rp.16.893,” ujar Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya, Jumat (13/3).

Sentimen eksternal menjadi salah satu faktor utama tekanan terhadap rupiah. Harga minyak melonjak setelah pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, menyatakan Selat Hormuz akan tetap ditutup. Jalur sempit tersebut merupakan titik penting yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia, sehingga penutupannya memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global.

Lonjakan harga minyak mentah Brent yang sempat menyentuh sekitar USD100 per barel memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi lonjakan inflasi global. Kondisi ini juga dapat memengaruhi arah kebijakan bank sentral, termasuk Federal Reserve, yang berpotensi menunda rencana pemangkasan suku bunga apabila tekanan inflasi meningkat.

Selain perkembangan geopolitik di Timur Tengah, pelaku pasar juga mencermati data inflasi Amerika Serikat. Data indeks harga konsumen (CPI) Februari menunjukkan inflasi relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, pasar masih menunggu rilis indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), indikator inflasi pilihan Federal Reserve, yang dinilai dapat memberikan sinyal arah kebijakan suku bunga ke depan.

Dari dalam negeri, pasar juga menyoroti meningkatnya beban pembayaran bunga utang pemerintah yang dinilai membatasi ruang fiskal untuk mendorong ekonomi melalui percepatan belanja negara. Hingga Februari 2026, realisasi pembayaran bunga utang tercatat mencapai Rp99,8 triliun atau sekitar 27,8% dari total pendapatan negara sebesar Rp358 triliun.

Di sisi lain, kenaikan imbal hasil surat berharga negara (SBN) juga menjadi perhatian. Berdasarkan data Kementerian Keuangan per 10 Maret 2026, yield SBN tenor 10 tahun berada di level 6,52%, sementara yield US Treasury tenor 10 tahun di posisi 4,09%. Secara year to date (YtD), yield SBN tercatat meningkat sekitar 55 basis poin, yang berpotensi menambah tekanan terhadap beban bunga utang dalam APBN.

“Untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp16.960-Rp17.020. Untuk range satu minggu Rp16.850-Rp17.150,” kata Ibrahim.