periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Selasa, 31 Maret 2026, ke level Rp17.041 per dolar AS. Pelemahan 39 poin ini terjadi dari penutupan sebelumnya di level Rp17.002, seiring penguatan indeks dolar AS dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

“Rupiah sore ini ditutup melemah 39 poin di level Rp17.041 dari penutupan sebelumnya Rp17.002, sebelumnya sempat menguat 8 poin,” ujar Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi, Selasa (31/3).

Sentimen eksternal menjadi penekan utama pergerakan rupiah. Indeks dolar AS tercatat menguat pada perdagangan Selasa, didorong meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah eskalasi konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Situasi memanas setelah Iran menutup efektif Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global. Dampaknya, harga minyak melonjak tajam, dengan Brent berjangka naik hingga 59% sepanjang Maret, kenaikan bulanan tertinggi sepanjang sejarah, sementara WTI menguat 58%, tertinggi sejak Mei 2020.

Ketegangan semakin meningkat setelah kapal tanker minyak Kuwait, Al Salmi, dilaporkan diserang di pelabuhan Dubai. Insiden ini memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global serta potensi tumpahan minyak di kawasan tersebut.

Di sisi lain, kelompok Houthi yang didukung Iran juga meluncurkan serangan rudal ke Israel, memicu kekhawatiran gangguan di Selat Bab el-Mandeb, jalur strategis perdagangan global yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden.

Presiden AS Donald Trump bahkan memperingatkan akan “menghancurkan” fasilitas energi Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali. Meski demikian, Gedung Putih menyatakan bahwa pembicaraan dengan Iran masih berlangsung dan berjalan positif, meskipun terdapat perbedaan pernyataan publik dan komunikasi tertutup.

Dari dalam negeri, fundamental ekonomi Indonesia masih relatif terjaga. Ekonom memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 berada di kisaran 5,1%-5,2%, didorong oleh konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah.

Momentum musiman seperti Ramadan dan Idulfitri, penyaluran THR, bantuan sosial, serta peningkatan mobilitas masyarakat menjadi pendorong utama aktivitas ekonomi, terutama di sektor perdagangan, transportasi, dan makanan minuman.

Sejumlah indikator juga menunjukkan daya tahan ekonomi domestik. Indeks keyakinan konsumen masih tinggi di level 125,2, penjualan ritel tumbuh, serta PMI manufaktur berada di level ekspansif 53,8. Belanja negara yang meningkat di awal tahun turut memperkuat sisi permintaan.

Namun demikian, struktur pertumbuhan yang masih bergantung pada konsumsi dinilai belum sepenuhnya sehat untuk jangka panjang, terutama di tengah perlambatan investasi dan tekanan dari sektor eksternal akibat kondisi global yang memburuk.

“Untuk perdagangan Rabu, mata uang rupiah diperkirakan fluktuatif namun ditutup melemah dalam rentang Rp17.040-Rp17.070,” tutup Ibrahim.