periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup menguat pada perdagangan Rabu, 8 April 2026, ke level Rp17.012 per dolar AS. Penguatan 93 poin ini terjadi dari penutupan sebelumnya di Rp17.105, seiring melemahnya indeks dolar AS dan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

“Rupiah sore ini ditutup menguat 93 poin di level Rp17.012 dari penutupan sebelumnya Rp17.105, sebelumnya sempat menguat 115 poin,” ujar Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi, Rabu (8/4).

Dari eksternal, sentimen positif datang setelah Presiden AS Donald Trump menyetujui gencatan senjata dengan Iran. Dalam pernyataannya, Trump menyebut akan menangguhkan aksi militer selama dua minggu setelah mengklaim tujuan utama militer telah tercapai.

Pengumuman tersebut dirilis kurang dari dua jam sebelum tenggat waktu pukul 20.00 ET yang sebelumnya dikhawatirkan menjadi pemicu eskalasi besar. Gencatan senjata yang dimediasi Pakistan ini juga disertai komitmen Iran untuk membuka kembali jalur aman di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi sekitar 20% distribusi minyak global.

Meredanya ketegangan ini menurunkan premi risiko di pasar energi dan mendorong pelemahan dolar AS. Meski demikian, pelaku pasar masih menantikan rilis data inflasi AS (CPI) bulan Maret pada Jumat, yang diperkirakan menunjukkan kenaikan akibat lonjakan harga energi, sehingga berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Dari dalam negeri, sentimen turut ditopang oleh kinerja fiskal yang solid. Realisasi pendapatan negara hingga 31 Maret 2026 mencapai Rp574,9 triliun atau tumbuh 10,5% secara tahunan (yoy), setara 18,2% dari target APBN 2026 sebesar Rp3,15 kuadriliun.

Penerimaan perpajakan tercatat Rp462,7 triliun atau naik 14,3% yoy, dengan kontribusi terbesar berasal dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan PPnBM sebesar Rp155,6 triliun yang melonjak 57,7% yoy. Sementara itu, Pajak Penghasilan (PPh) Badan, PPh Orang Pribadi, serta jenis pajak lainnya juga mencatatkan pertumbuhan positif.

Namun demikian, penerimaan kepabeanan dan cukai mengalami kontraksi 12,6% yoy menjadi Rp67,9 triliun. Secara keseluruhan, kinerja pendapatan negara yang kuat memberikan dukungan terhadap stabilitas rupiah di tengah dinamika global.

“Untuk perdagangan Kamis, mata uang rupiah diperkirakan akan fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.010-Rp17.040,” tutup Ibrahim.