periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup menguat tipis pada perdagangan Rabu, 16 April 2026, ke level Rp17.138 per dolar AS. Penguatan sebesar 4 poin ini terjadi dari penutupan sebelumnya di Rp17.143, di tengah pelemahan indeks dolar AS serta meredanya kekhawatiran pasar global.
“Rupiah sore ini ditutup menguat tipis 4 poin di level Rp17.138 dari penutupan sebelumnya Rp17.143, sebelumnya sempat melemah 2 poin,” ujar Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi, Rabu (16/4).
Dari eksternal, pelemahan dolar AS dipengaruhi oleh meningkatnya harapan meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Laporan menyebut Iran berpotensi mengizinkan kapal melintas melalui Selat Hormuz jika kesepakatan tercapai, sehingga meredakan kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
Gedung Putih juga menyampaikan optimisme terhadap peluang tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri konflik, meskipun tetap menegaskan akan meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran jika negosiasi tidak membuahkan hasil. Di sisi lain, sumber yang mengetahui pembicaraan menyebut Iran mempertimbangkan membuka jalur pelayaran di sisi Oman Selat Hormuz sebagai bagian dari kompromi.
Konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran sebelumnya sempat memicu gangguan besar pada pasokan minyak dan gas global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital yang menangani sekitar 20% aliran energi dunia. Saat ini, pembicaraan lanjutan direncanakan kembali digelar dengan mediasi Pakistan, guna mencegah eskalasi konflik lebih lanjut.
Meski demikian, tekanan belum sepenuhnya hilang. Amerika Serikat masih memberlakukan blokade terhadap pengiriman dari pelabuhan Iran serta menghentikan pengecualian pembelian minyak Iran dan Rusia, yang berpotensi menjaga volatilitas pasar energi global.
“Perkembangan ini tetap memicu ketidakpastian di pasar energi dan keuangan global, meskipun ada harapan deeskalasi konflik,” jelas Ibrahim.
Dari dalam negeri, posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Februari 2026 tercatat meningkat menjadi 437,9 miliar dolar AS, dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 434,9 miliar dolar AS. Secara tahunan, ULN tumbuh 2,5% (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 1,7% (yoy).
Peningkatan tersebut terutama didorong oleh ULN sektor publik, khususnya bank sentral, seiring derasnya aliran masuk modal asing ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Sementara itu, ULN swasta justru mengalami penurunan.
Dari sisi fiskal, tekanan juga mulai terlihat. Hingga Maret 2026, defisit anggaran mencapai 0,93% terhadap PDB atau sekitar Rp240 triliun, meningkat tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 0,4% atau Rp100 triliun. Kenaikan harga minyak global yang berada di kisaran US$100 per barel, jauh di atas asumsi APBN sebesar US$70, meningkatkan risiko pembengkakan subsidi energi.
Kondisi ini membuka peluang revisi APBN pada Agustus mendatang, termasuk opsi penyesuaian harga BBM bersubsidi yang berpotensi memicu tekanan inflasi dan risiko stagflasi.
“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah diperkirakan akan fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.130-Rp17.170,” tutup Ibrahim.
Tinggalkan Komentar
Komentar