periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup menguat pada perdagangan Senin, 27 April 2026, seiring pelemahan indeks dolar Amerika Serikat (AS) di tengah perkembangan terbaru negosiasi geopolitik antara AS dan Iran. Rupiah ditutup di level Rp17.211 per dolar AS.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah menguat 18 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.229 per dolar AS, setelah sempat menguat lebih tinggi di awal sesi.

“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat 18 point sebelumnya sempat menguat 20 point dilevel Rp.17.211 dari penutupan sebelumnya di level Rp.17.229,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Senin (27/4).

Dari sentimen eksternal, indeks dolar AS melemah seiring pasar mencermati peluang dimulainya kembali pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Upaya diplomasi kembali mengemuka setelah Iran dilaporkan mengajukan proposal baru untuk membuka Selat Hormuz dan mengakhiri konflik.

Sejumlah laporan menyebutkan bahwa utusan khusus Presiden AS Donald Trump telah dikirim untuk membuka jalur komunikasi, sementara Iran juga dikabarkan siap mengajukan tawaran guna memenuhi tuntutan AS.

“Kondisi ini meredakan kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik yang sebelumnya sempat mengganggu jalur distribusi minyak global,” ujar Ibrahim.

Meski demikian, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz masih terbatas. Jalur vital yang sebelumnya mengangkut sekitar seperlima produksi minyak dunia itu masih terhambat, sehingga tetap menjadi sumber ketidakpastian bagi pasar energi global.

Dari dalam negeri, sentimen datang dari lembaga pemeringkat Moody’s yang mempertahankan peringkat utang Indonesia di level Baa2, meskipun outlook diturunkan dari stabil menjadi negatif. Pemerintah menyatakan akan terus menjaga stabilitas ekonomi melalui sinergi kebijakan fiskal dan moneter.

Selain itu, pemerintah bersama Bank Indonesia menegaskan komitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan pasar keuangan, termasuk melalui berbagai kebijakan strategis guna menopang pertumbuhan ekonomi.