Periskop.id - Rupiah dibuka melemah pada awal perdagangan Senin (6/7/2026), terseret rebound indeks dolar AS atau DXY yang menguat seiring meningkatnya ekspektasi pasar. Berdasarkan data Doo Financial Futures pukul 09.05 WIB, rupiah terkoreksi 0,18% ke posisi Rp17.995 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menilai penguatan dolar AS terdorong oleh meningkatnya ekspektasi pasar terhadap rilis data ISM Services PMI Amerika Serikat yang dijadwalkan malam hari ini. Ia memperkirakan rupiah berpotensi kembali tertekan sepanjang sesi perdagangan hari ini.
"Pasar mengkhawatirkan posisi cadangan devisa kembali mengalami penurunan setelah sebelumnya tertekan oleh kebutuhan stabilisasi nilai tukar dan pembayaran utang luar negeri pemerintah," ujar Lukman dalam pernyataannya, Senin (6/7).
Pelemahan rupiah bukan terjadi sendirian. Mayoritas mata uang Asia turut terdepresiasi terhadap dolar AS dalam sesi yang sama.
Koreksi terdalam dialami yen Jepang sebesar 0,30%, disusul dolar Taiwan yang turun 0,28%, dan won Korea yang melemah 0,25%. Peso Filipina terdepresiasi 0,17%, yuan China turun 0,10%, baht Thailand melemah 0,07%, dolar Singapura turun 0,06%, dan ringgit Malaysia terkoreksi 0,04%.
Di antara semua mata uang kawasan, rupee India menjadi satu-satunya yang justru menguat terhadap dolar AS, yakni sebesar 0,18%. Dolar Hong Kong terpantau stagnan.
Di sisi domestik, sentimen pasar dinilai Lukman belum cukup kuat untuk menopang rupiah. Pelaku pasar masih menunggu rilis data cadangan devisa Indonesia yang dijadwalkan Selasa (7/7/2026).
Secara historis, data ISM Services PMI kerap mencerminkan daya tahan perekonomian Amerika. Jika hasil rilis malam ini menunjukkan ekspansi yang solid, permintaan terhadap dolar AS berpotensi terkerek lebih jauh, sehingga tekanan terhadap rupiah bisa semakin dalam.
Kombinasi penguatan dolar di pasar global dan kekhawatiran terhadap posisi cadangan devisa nasional diperkirakan akan mempertebal tekanan terhadap rupiah dalam jangka pendek.
Dengan mempertimbangkan kedua sentimen itu, Lukman memproyeksikan rupiah bergerak dalam kisaran Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS hari ini, dengan potensi pelemahan lebih lanjut apabila data ekonomi AS dirilis di atas ekspektasi pasar.
Tinggalkan Komentar
Komentar