Pemerintah mempercepat program rumah subsidi dengan menaikkan target pembiayaan secara signifikan dalam dua tahun ke depan. Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait menyebut penyaluran rumah subsidi terus mengalami lonjakan dan menjadi yang tertinggi di antara bank penyalur.
“Tahun 2024 itu 16 ribu. Tahun 2025 realisasinya 32 ribu. Dan kita bersepakat, tahun depan 60 ribu,” kata Maruarar saat ditemui wartawan di Wisma Mandiri, Jakarta, Senin (9/2).
Percepatan penyaluran rumah subsidi tersebut didorong oleh kebijakan insentif pemerintah yang ditujukan untuk meringankan beban masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Pemerintah menghapus sejumlah pungutan dan memperlonggar skema pembiayaan agar akses kepemilikan rumah semakin terbuka.
“Presiden Prabowo sudah menggratiskan BPHTB dan PBB. Kemudian bunganya 5 persen, DP 1 persen,” ujar Maruarar.
Ia menjelaskan, program ini menyasar kelompok pekerja informal dan sektor produktif seperti buruh, asisten rumah tangga, petani, serta nelayan, dengan buruh menjadi kelompok penerima manfaat terbesar. Maruarar juga optimistis tingkat realisasi pembiayaan rumah subsidi dapat mencapai 99%.
Dalam aspek pembiayaan, Maruarar menyoroti peran dominan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dalam mendukung sektor perumahan rakyat. Hingga saat ini, porsi penyaluran BRI tercatat sebagai yang terbesar dibandingkan bank penyalur lainnya.
“Total KUR Perumahan per hari ini Rp3,547 triliun, dan Rp1,774 triliun itu BRI, atau 49%,” ungkapnya.
Direktur Utama BRI Heri Gunardi mengatakan, kontribusi tersebut sejalan dengan mandat BRI sebagai bank yang fokus melayani masyarakat kecil sekaligus pelaksana program subsidi pemerintah.
“Kami punya lebih dari 7.500 cabang, nasabah lebih dari 120 juta, dan karyawan sekitar 129 ribu orang,” ujar Heri.
Tak hanya menyalurkan pembiayaan perumahan, BRI juga mengintegrasikan program rumah subsidi dengan penguatan usaha mikro melalui Holding Ultra Mikro yang melibatkan BRI, PT Permodalan Nasional Madani (PNM), dan Pegadaian.
“Anggota PNM itu sekitar 16,2 juta. Yang sudah naik kelas dan mendapatkan pembiayaan dari BRI lebih dari 2 juta,” kata Heri.
Skema kolaborasi tersebut dirancang untuk membangun ekosistem berkelanjutan, di mana penerima rumah subsidi tidak hanya memperoleh hunian layak, tetapi juga memiliki akses pembiayaan usaha guna menopang ketahanan ekonomi rumah tangga.
“Harapannya, masyarakat yang mendapat rumah juga punya usaha untuk menghidupi keluarganya,” kata Heri.
Tinggalkan Komentar
Komentar