Periskop.id - Presiden ke-6 Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan, Indonesia harus meningkatkan kewaspadaan karena potensi pecahnya perang dunia ke tiga sudah terlihat. Hal tersebut dikatakan SBY saat memberikan kuliah umum di kantor Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Jakarta Pusat, Senin.

"Beliau menyebutkan mungkin akan terjadi perang dunia ketiga karena beberapa potensi bagi terjadinya konflik di kawasan itu nyata, sinyalnya sudah sangat kuat," kata Gubernur Lemhannas Ace Hasan Syadzily saat jumpa pers usai menghadiri kuliah umum yang diberikan SBY, Senin (23/2). 

Ace menjelaskan, SBY menyebut ada beberapa faktor yang membuat perang dunia ke tiga pecah. Salah satunya yakni konflik yang saat ini sedang memanas di beberapa wilayah.

Di Asia, kata Ace, konflik antar negara tengah memanas di beberapa daerah salah satunya Laut Cina Selatan (LCS), Semenanjung Korea, hingga konflik antara Cina dan Taiwan.

"Tadi disebut juga soal Greenland kemudian di Timur Tengah yang saya kira juga kita bisa menyaksikan konflik Palestina, Israel, Iran dan Amerika Serikat," ujar Ace.

Kondisi tersebut, lanjut Ace, menjelaskan arahan SBY, membuat Indonesia harus berjaga-jaga mengamankan kedaulatan negara. Salah upaya yang bisa dilakukan pemerintah yakni membangun hubungan diplomasi yang kuat dengan negara-negara besar seperti Amerika Serikat, China dan Rusia.

"Saya kira bapak Presiden Prabowo Subiyanto telah melakukan itu dengan sangat baik dan kami terus mendukung upaya diplomasi," imbuhnya. 

Selain memperkuat hubungan diplomasi, Indonesia dinilai juga harus memperkuat ketahanan dalam negeri dengan meningkatkan produksi pangan dan memperkuat kekuatan militer.

Dengan ragam upaya tersebut, Ace yakin Indonesia akan semakin kuat dalam menghadapi ragam dampak buruk dari pecahnya perang dunia ke tiga.

Pertahanan Udara
Selain kemungkinan perang dunia ketiga, SBY juga mengingatkan pentingnya memperkuat pertahanan udara, untuk menjaga wilayah Indonesia dari serangan negara asing.

Hal tersebut menurut SBY harus dilakukan, karena saat ini setiap negara telah memodernisasi sistem kesenjataannya sehingga metode penyerangan tidak lagi konvensional.

SBY menerangkan, semula Indonesia masih menerapkan doktrin pertahanan yang lebih menonjolkan kekuatan matra darat TNI. 

"Air power ini sangat penting. Jadi kalau dulu (pertahanan keamanan rakyat semesta) hankamrata kita kalau akan diserang, kita serang di negaranya, meskipun tidak mudah, kita hadang di sepanjang perjalanan, pertahanan pantai, pertahanan pulau-pulau besar perang gerilya dan serangan balasan. Itu kan doktrinnya dulu," terang SBY.

Kini, lanjut dia, doktrin tersebut sudah kurang relevan karena saat ini dunia sudah menggunakan sistem kesenjataan berteknologi tinggi yang memungkinkan penyerangan dilakukan dari jarak jauh lewat udara.

"Sekarang begitu ada serangan udara menghancurkan Jakarta, PT Pindad (perusahaan dalam negeri pembuat senjata) di Bandung, PT PAL (galangan kapal dalam negeri) di Surabaya dan kota kota yang lain; apa yang kita lakukan ?," tanyanya. 

Karena itu, dia menekankan, Indonesia harus mengembangkan teknologi sistem kesenjataan, agar dapat mempertahankan negara dari serangan-serangan non konvensional tersebut. Salah satu cara yang harus dilakukan yakni mengembangkan sistem kesenjataan berbasis teknologi kecerdasan buatan. 

Pengembangan kecerdasan buatan ini, lanjut dia, juga harus diiringi peningkatan kualitas sumber daya manusia yang memadai dan kebijakan yang strategis.

"Sumber daya kita harus dibangun, keahlian kita harus dibangun, kebijakannya harus dibikin. Jadi bagi saya apapun harus siap karena kita tidak bisa pilih-pilih," lanjutnya. 

Dengan upaya-upaya tersebut, dia meyakini pertahanan negara akan semakin kuat di tengah derasnya perkembangan teknologi sistem kesenjataan di dunia.