Periskop.id - Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif melalui sambungan telepon, membahas rencana keduanya pergi ke Teheran, Iran. Hal ini dilakukan untuk membantu meredam eskalasi yang saat ini terjadi di negara-negara Teluk, Timur Tengah.

Presiden Prabowo membagikan isi percakapannya dengan PM Sharif dalam pertemuan dengan para kiai, ulama, serta cendekiawan muslim di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Kamis (5/3) malam.

"Beliau (Presiden Prabowo, red.) tadi bercerita sebelum pertemuan ini, tadi ada bicara telepon dengan Perdana Menteri Pakistan," kata Ketua Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie saat ditemui setelah acara pertemuan dengan Presiden Prabowo di Istana, Kamis malam.

"Dan yang saya bersyukur Presiden (Prabowo), Perdana Menteri Pakistan bersedia untuk bersama-sama dengan Presiden Prabowo untuk berkunjung ke Teheran. Itu yang diterangkan tadi oleh Presiden," sambung Jimly.

Jimly kemudian menyampaikan di hadapan para ulama dan kiai, Presiden Prabowo menjelaskan niatan untuk mediasi itu lebih ke arah untuk meredam eskalasi yang saat ini terjadi di negara-negara Teluk. Terutama setelah militer Amerika Serikat dan zionis Israel menyerang Iran secara sepihak minggu lalu.

"Jadi, bukan menegosiasi ya, menjadi mediator antara apa dengan bukan hanya dalam pengertian negosiasi atau mediasi Israel dengan Iran, bukan kayak begitu. Ini kan orang (tertingginya, red.) sudah dibunuh ya kan. Ayatollah-nya sudah dibunuh, masa ditawarin damai, bukan dalam konteks itu, tetapi ini untuk mencegah eskalasi," kata Jimly menjelaskan.

Menurut Jimly, niatan Presiden Prabowo untuk meredam eskalasi itu disambut baik oleh PM Pakistan. "Jadi, bukan hanya Indonesia. Artinya, apa yang dipikirkan oleh Presiden Prabowo itu mendapat dukungan dari Perdana Menteri Pakistan. Nah mereka (rencana, red.) akan sama-sama pergi ke Teheran," ujar Jimly.

Jimly menilai inisiatif Presiden Prabowo itu pun mendapat banyak dukungan dari tokoh-tokoh Muslim yang menghadiri pertemuan di Istana pada Kamis malam. "Nah, jadi, peranan Indonesia, Pakistan sebagai negara berpenduduk muslim terbesar penting sekali untuk mengajak damai, walaupun mungkin peluangnya kecil, tetapi (patut) dicoba," sambungnya.

Pada kesempatan terpisah, PM Pakistan Shehbaz Sharif mengumumkan isi pembicaraannya dengan Presiden Prabowo. PM Pakistan menyebut pembicaraannya melalui telepon dengan Presiden Prabowo "sangat produktif".

"Kami bertukar pandangan mengenai kekhawatiran mendalam kami terhadap situasi di Timur Tengah, dan kami sepakat mendesak dibutuhkan masing-masing pihak untuk menahan diri untuk memperbarui kembali diplomasi demi mencegah eskalasi lebih lanjut. Kami juga membahas perkembangan terkini di Afghanistan, dan setuju untuk tetap berhubungan erat dalam beberapa hari ke depan untuk bersama-sama mewujudkan perdamaian dan stabilitas di kawasan," kata PM Sharif dalam siaran resminya.

Aksi China

Sejatinya, tak hanya Indonesia dan Pakistan yang berusaha meredam eskalasi, Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi pada Rabu (4/3) juga mengatakan, China akan mengirim utusan khusus ke Timur Tengah untuk melibatkan negara-negara regional dalam upaya mediasi.

Wang Yi menyampaikan pernyataan tersebut saat melakukan panggilan telepon dengan Menteri Luar Negeri (Menlu) Arab Saudi Faisal bin Farhan Al Saud, menurut Kantor Berita Xinhua yang dikelola Pemerintah China.

Dalam percakapan terpisah dengan Menlu Uni Emirat Arab (UEA) Abdullah bin Zayed Al Nahyan, Wang Yi mengatakan, di tengah konflik, "garis merah untuk melindungi warga sipil tidak boleh dilanggar". Dia juga menyatakan dukungan Beijing terhadap penyelesaian sengketa melalui diplomasi.

Wang juga menghubungi Menlu Israel Gideon Sa’ar dan mengatakan penggunaan kekuatan militer terhadap Iran, tidak akan menyelesaikan krisis tersebut. Awal pekan ini, Wang juga mendesak Menlu Iran Abbas Araghchi untuk menanggapi "kekhawatiran yang wajar" dari negara-negara tetangga dalam sebuah percakapan telepon.

Ketegangan meningkat di Timur Tengah setelah AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran mulai 28 Februari lalu hingga menewaskan lebih dari 850 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, dan lebih dari 150 siswi sekolah dasar, demikian menurut pihak berwenang Iran.

Iran pun membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan situs-situs terkait AS di negara-negara Teluk hingga menyebabkan banyak korban jiwa. Enam anggota militer AS dilaporkan tewas dan beberapa lainnya terluka.

Iran Tolak Negosiasi
Sebelumnya, Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi kembali menegaskan, Teheran menolak tawaran mediasi sejumlah negara dalam meredakan eskalasi konflik Timur Tengah karena Iran tidak akan berunding dengan Amerika Serikat.

Pernyataan itu disampaikan Dubes Boroujerdi saat ditemui di kediamannya di Jakarta, Kamis, merujuk pada pernyataan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia yang menyatakan Indonesia siap untuk memfasilitasi dialog agar kondisi keamanan dan kondusif dapat tercipta kembali dan kesediaan Presiden Prabowo Subianto untuk menjadi mediator.

“Usulan dari pemerintah Indonesia, kami ingin menyampaikan bahwa kami tidak ada negosiasi dalam bentuk apa pun dengan kaum musuh, dikarenakan kami sudah tidak percaya dengan yang namanya negosiasi,” kata Dubes Boroujerdi.

Diplomat itu menegaskan bahwa Iran telah melalukan negosiasi dengan Amerika Serikat sebanyak tiga kali, dan selalu berujung Washington yang melanggar perjanjian atau melancarkan serangan.

Dia merinci, negosiasi pertama terkait nuklir yang telah mencapai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA)—kesepakatan internasional mengenai program nuklir Iran yang dicapai pada 2015 antara Iran dan negara-negara besar dunia. AS kemudian menarik diri dari perjanjian

“Negosiasi kedua adalah lima putaran kami melakukan negosiasi dengan mereka dan di tengah-tengah negosiasi, mereka telah menyerang negara kami,” ucapnya merujuk pada serangan Juni 2025 lalu.

Adapun negosiasi ketiga adalah yang ketika itu berlangsung dengan Oman bertindak sebagai mediator. Delegasi Iran dan AS sedang melakukan negosiasi tak langsung putaran ketiga di Jenewa, Swiss, sebelum akhirnya operasi militer AS-Iran dilancarkan.

Merujuk pada negosiasi yang berakhir di tengah jalan, Dubes Boroujerdi menekankan, untuk kali ini, Iran tidak akan membuka ruang negosiasi dan akan memperjuangkan kemenangan Iran.

“Ini berkaitan dengan komitmen terhadap sebuah negosiasi dan jaminan akan berlangsungnya sebuah negosiasi sampai pencapaian hasil. Untuk kali ini kami tidak akan menerima bentuk negosiasi apapun dan kami akan mengejar perang ini sampai kemenangan Iran,” ucapnya.

Selain Indonesia, Presiden Rusia, Vladimir Putin turut menyampaikan kesiapan untuk menjadi mediator. Menurut pernyataan Kremlin, Putin menawarkan untuk bertindak sebagai perantara dengan menyampaikan keluhan UEA tentang serangan tersebut kepada Iran.

Pemimpin Rusia itu menyampaikan penawaran tersebut saat sedang melakukan panggilan telepon dengan Presiden UEA Mohammed bin Zayed Al Nahyan.