periskop.id - Presiden Prabowo Subianto menegaskan Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi negara maju dan makmur. Hal itu disampaikan dalam pidato rapat paripurna DPR terkait Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2026.
Dalam pidatonya, Prabowo menyoroti posisi geografis Indonesia yang sangat strategis karena berada di jalur perdagangan dunia. Ia juga menyebut Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah mulai dari kelapa sawit, batubara, nikel, tembaga, hingga hasil laut.
“Posisi geografis kita sangat strategis. Pasar domestik kita sebesar Eropa,” kata Prabowo.
Prabowo mengungkapkan Indonesia merupakan pengekspor minyak kelapa sawit terbesar dunia. Nilai devisa ekspor sawit pada 2025 disebut mencapai sekitar US$23 miliar atau setara ratusan triliun rupiah.
Selain sawit, Indonesia juga menjadi eksportir batubara terbesar dunia. Sementara untuk produk hilirisasi logam seperti ferro alloy dan nikel, Indonesia kini mulai mendominasi pasar global setelah kebijakan hilirisasi dijalankan dalam beberapa tahun terakhir.
“Tiga komoditas strategis ini menghasilkan devisa lebih dari 65 miliar dolar Amerika per tahun,” ujar Prabowo.
Meski demikian, Prabowo mengingatkan bahwa besarnya kekayaan alam belum sepenuhnya tercermin pada kekuatan fiskal negara. Ia menyoroti rasio penerimaan dan belanja negara terhadap PDB Indonesia yang masih rendah dibanding negara G20 lainnya.
Menurut sejumlah laporan ekonomi internasional, rasio pajak Indonesia memang masih berada di bawah rata-rata negara berkembang besar lainnya. Kondisi ini membuat ruang fiskal pemerintah menjadi lebih terbatas untuk mendanai program pembangunan dan kesejahteraan sosial.
Karena itu, Prabowo menegaskan pemerintah akan terus memperkuat pengelolaan kekayaan nasional agar manfaatnya lebih besar dirasakan rakyat Indonesia.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar