periskop.id - Anggota Komisi VI DPR RI Sturman Panjaitan menilai skema pembekalan bagi calon manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih perlu dievaluasi. Langkah ini dipandang mendesak menyusul bertambahnya korban meninggal dunia dalam program pelatihan tersebut.

Menurutnya, materi pelatihan tidak dapat disamakan dengan latihan dasar militer. Perbedaan ini didasarkan pada tujuan dan karakter peserta yang tidak serupa.

"Latsarmil itu latihan dasar militer. Judulnya saja untuk militer, bukan untuk usaha. Artinya kita harus melihat secara cermat. Tidak sama kebutuhan untuk militer dengan kepada swasta atau kepada manajer," ujar Sturman di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (30/6).

Ia menjelaskan, peserta latihan dasar militer wajib melalui berbagai tahapan seleksi ketat sebelum mengikuti pendidikan. Proses tersebut meliputi penyaringan kemampuan fisik, intelegensi, hingga kriteria spesifik lainnya.

Pendekatan ketat tersebut dinilai tidak bisa diterapkan langsung kepada calon manajer koperasi. Karakteristik organisasi dan beban kerja keduanya dianggap memiliki cetak biru yang berbeda.

"Untuk militer, sebelum mereka dilatih sudah punya kriteria, punya ketetapan, kemampuan fisik, dan intelegensi yang sudah diukur. Jadi tidak bisa serta-merta paket latihan dasar militer dipindahkan ke paket untuk manajer," tegas Politisi Fraksi PDI-Perjuangan itu.

Sturman menambahkan, materi bernuansa militer harus dipilah dan disesuaikan dengan kebutuhan pengelolaan koperasi jika tetap ingin digunakan. Adopsi secara utuh tanpa penyaringan dinilai keliru karena fungsi manajer sangat spesifik.

"Kalau mau dipakai, harus dipilah dan dipilih mana yang cocok. Sekarang ini latihan dasar itu untuk apa? Tentu berbeda dengan kebutuhan seorang manajer," katanya.

Legislator Dapil Kepulauan Riau ini berpendapat, pelatihan bagi calon manajer seharusnya lebih berorientasi pada peningkatan kapasitas mengelola usaha. Fokus utama mesti diarahkan pada kemampuan memimpin organisasi.

Orientasi baru ini dinilai penting agar tujuan program dapat tercapai. Di sisi lain, aspek keselamatan peserta tetap menjadi prioritas utama yang tidak boleh diabaikan.

Lebih lanjut, ia meminta penyelenggara melakukan evaluasi menyeluruh terhadap insiden yang terjadi. Investigasi mendalam diperlukan agar kejadian serupa tidak terulang kembali pada masa depan.

Sturman menekankan pentingnya menelusuri penyebab ketidakmampuan peserta dalam menyelesaikan pelatihan. Proses seleksi dan pengawasan juga dituntut berjalan lebih cermat dan ketat.

"Kita minta panitia maupun Koperasi Merah Putih melihat lagi alasan mengapa sampai peserta itu bisa meninggal atau gagal mengikuti latihan. Seorang pelatih harus jeli melihat kemampuan setiap peserta, bukan serta-merta menggunakan satu paket pelatihan untuk semua," pungkas Sturman.