periskop.id - Kabar duka menyelimuti dunia usaha Indonesia setelah Michael Bambang Hartono dilaporkan meninggal dunia pada Kamis, 19 Maret 2026. 

Melansir berbagai sumber, pengusaha senior yang dikenal sebagai salah satu pemilik Grup Djarum tersebut mengembuskan napas terakhirnya di Singapura pada pukul 13.15 waktu setempat, dalam usia 86 tahun.

Kepergian Michael Bambang Hartono menjadi kehilangan besar, tidak hanya bagi keluarga dan perusahaan, tetapi juga bagi perekonomian nasional. Ia merupakan sosok penting di balik kesuksesan Djarum yang berkembang dari industri rokok kretek menjadi konglomerasi besar dengan berbagai lini bisnis, termasuk perbankan dan elektronik. Bersama saudaranya, Robert Budi Hartono, ia membangun kerajaan bisnis yang memiliki pengaruh luas di Indonesia. 

Perjalanan bisnis Michael tidak lepas dari warisan ayahnya, Oei Wie Gwan, pendiri Djarum. Setelah sang ayah wafat pada 1963, ia bersama saudaranya melanjutkan usaha tersebut hingga mampu menembus pasar internasional dan menjadi salah satu pemain utama di industri tembakau global. Diversifikasi bisnis yang dilakukan juga memperkuat posisi Grup Djarum sebagai salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia. 

Selain dikenal sebagai pebisnis ulung, Michael Bambang Hartono juga tercatat sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia dengan kekayaan mencapai puluhan miliar dolar AS. Sumber kekayaannya tidak hanya berasal dari industri rokok, tetapi juga dari kepemilikan saham di sektor perbankan seperti Bank Central Asia (BCA), serta berbagai investasi strategis lainnya. 

Di luar dunia bisnis, Michael juga dikenal aktif dalam olahraga bridge dan pernah mewakili Indonesia di berbagai ajang internasional. Bahkan, ia menjadi salah satu atlet tertua yang meraih prestasi di Asian Games 2018, menunjukkan dedikasinya tidak hanya pada bisnis tetapi juga pada pengembangan olahraga di Tanah Air. 

Hingga saat ini, pihak keluarga dan manajemen masih menunggu keputusan terkait prosesi pemakaman. Namun satu hal yang pasti, warisan Michael Bambang Hartono akan terus hidup melalui kontribusinya dalam membangun industri, membuka lapangan kerja, dan menggerakkan roda ekonomi Indonesia selama puluhan tahun. Kepergiannya menandai berakhirnya era penting dalam sejarah bisnis nasional.