Periskop.id - Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) menilai ekosistem kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) dapat menjadi motor pertumbuhan industri nasional,. Karena itu, Indonesia perlu memperkuat riset dan rantai pasok agar tidak berhenti pada keunggulan bahan baku.
Ketua Umum Periklindo Jenderal TNI (Purn.) Moeldoko mengatakan, pengembangan EV harus diarahkan untuk mendorong daya saing industri nasional, bukan sekadar memanfaatkan kekayaan sumber daya alam.
“Kita terlalu bangga dengan itu. Akhirnya kita terjebak dalam keunggulan komparatif, bukan menuju kepada keunggulan kompetitif,” kata Moeldoko dalam Tutur Economic Dialogue Trend 2026 di Jakarta, Selasa (7/4).
Ia menjelaskan, Indonesia memiliki modal besar berupa sumber daya mineral untuk mendukung industri baterai, seperti nikel, mangan, kobalt, dan tembaga. Namun, menurutnya, keunggulan bahan baku tersebut belum cukup apabila tidak diikuti penguatan riset dan penguasaan teknologi.
Moeldoko menuturkan, tantangan utama Indonesia saat ini terletak pada kemampuan riset, terutama di tengah perkembangan teknologi baterai yang bergerak cepat, mulai dari lithium iron phosphate hingga solid-state battery.
Ia menilai penguatan riset menjadi kunci agar Indonesia tidak tertinggal dalam pengembangan industri kendaraan listrik. “Kalau riset kita lemah bagaimana kita bisa mengejar?” ujar Moeldoko.
Rantai Pasok
Selain riset, ia juga menilai rantai pasok domestik masih perlu dikembangkan. Menurutnya, industri di dalam negeri saat ini masih banyak bergerak pada produksi katoda dan anoda, sementara pengolahan lanjutan menjadi sel baterai masih dilakukan di luar negeri sebelum kembali diimpor ke Indonesia untuk tahap perakitan.
Menurut Moeldoko, Indonesia perlu mendorong peningkatan daya saing industri dan hilirisasi, agar tidak hanya mengandalkan keunggulan sumber daya alam.
“Mari kita berpikir keras kalau kita ingin menuju kepada keunggulan kompetitif, bukan komparatif. Kalau melihat kita punya bahan baku, kita juga harus punya ahli-ahli di sektor riset.” ujarnya.
Ia menambahkan, Indonesia juga masih menghadapi tantangan pada pengembangan infrastruktur pendukung, seperti stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) yang teknologinya terus berkembang.
Meski demikian, Moeldoko menilai Indonesia masih memiliki ruang produksi yang besar, mengingat kapasitas industri otomotif domestik telah mencapai sekitar 2 juta hingga 2,5 juta unit per tahun.
Menurut dia, peluang tersebut harus dimanfaatkan dengan mempercepat pembangunan ekosistem EV secara utuh, mulai dari riset, produksi baterai, infrastruktur pengisian daya, hingga pengelolaan baterai bekas melalui skema penggunaan ulang dan daur ulang.
Chief Operating Officer PT Hyundai Motors Indonesia Fransiscus Soerjopranoto juga menilai, transisi kendaraan listrik di Indonesia menunjukkan perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut dia, penetrasi mobil listrik kini telah mencapai sekitar 13–14%, sedangkan kendaraan hibrida (hybrid) sekitar 8%, sehingga total pangsa keduanya telah melampaui 20 %. “Mobil listrik itu adalah masa depan dan kita harus masuk di dalamnya,” ujar Fransiscus.
Ia juga mengatakan, dinamika geopolitik global, termasuk ketegangan di Timur Tengah yang mempengaruhi harga bahan bakar fosil, mulai mendorong peningkatan minat masyarakat terhadap kendaraan listrik.
Tinggalkan Komentar
Komentar