Periskop.id – Perkembangan terapi presisi dan teknologi medis membuka peluang bagi pasien kanker untuk bertahan hidup lebih lama setelah menerima diagnosis. Pengobatan kini dapat disesuaikan dengan jenis kanker, karakteristik molekuler tumor, kondisi tubuh, dan respons setiap pasien.

Pakar Onkologi Parkway Cancer Centre Singapura, Dr. See Hui Ti mengatakan, peningkatan kasus kanker dalam beberapa tahun terakhir berjalan beriringan dengan kemajuan metode diagnosis dan pengobatan.

"Jumlah kasus kanker memang meningkat, tetapi harapan hidup pasien juga terus bertambah berkat perkembangan terapi dan teknologi medis. Banyak pasien dapat hidup lebih dari 10–15 tahun setelah diagnosis, karena adanya pengobatan yang semakin presisi," katanya dalam diskusi bersama media di Jakarta, Kamis (16/7).

Harapan hidup setiap pasien tetap berbeda karena dipengaruhi jenis dan stadium kanker, kondisi kesehatan, karakter biologis tumor, akses terhadap layanan medis, serta respons terhadap pengobatan. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mendefinisikan pengobatan presisi sebagai pendekatan yang menggunakan data klinis, molekuler, dan genomik untuk menentukan pencegahan, diagnosis, serta terapi yang lebih sesuai bagi setiap pasien.

Pendekatan tersebut dapat mencakup terapi target, imunoterapi, terapi hormon, pemeriksaan biomarker, hingga pengujian genomik untuk menemukan perubahan genetik pada sel kanker. Sebelumnya, mengenai pengobatan kanker paru, ahli onkologi medis Dr. Tanujaa Rajasekaran juga menekankan manfaat terapi yang disesuaikan dengan kondisi pasien.

"Pengobatan yang terpersonalisasi memungkinkan kami memilih terapi yang lebih efektif dan lebih dapat ditoleransi, khususnya bagi pasien di usia produktif yang harus menyeimbangkan pengobatan dengan tanggung jawab keluarga dan pekerjaan," ucap Tanujaa.

Kasus Kanker Indonesia Masih Tinggi

Kemajuan terapi sendiri berlangsung di tengah tingginya beban kanker di Indonesia. Kementerian Kesehatan mengacu pada data Globocan 2022 yang mencatat 408.661 kasus baru kanker dan sekitar 242.099 kematian di Indonesia. Kanker payudara merupakan jenis yang paling banyak ditemukan pada perempuan, sedangkan kanker paru paling banyak terjadi pada laki-laki.

Karena itu, peningkatan teknologi pengobatan perlu diikuti dengan pencegahan dan deteksi dini. WHO menyatakan sekitar 38% kasus kanker saat ini dapat dicegah dengan menghindari faktor risiko dan menjalankan strategi pencegahan yang telah terbukti. Kanker yang ditemukan lebih awal juga cenderung lebih mudah merespons terapi serta memberikan peluang kesintasan lebih tinggi.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebelumnya mengingatkan bahwa stadium saat kanker ditemukan sangat memengaruhi peluang kesembuhan pasien.

“Satu yang paling penting, harus deteksi dini. Kalau ketahuannya cepat, 90% bisa sembuh. Kalau ketahuannya terlambat 90% wafat,” kata Budi.

Obesitas dan Pencegahan Kanker

See turut mengingatkan hubungan antara obesitas, gangguan metabolisme insulin, dan peningkatan risiko sejumlah kanker. Beberapa di antaranya adalah kanker payudara, rahim, usus besar, lambung, prostat, dan ginjal.

Karena itu, masyarakat dianjurkan mempertahankan berat badan sehat melalui pola makan bergizi seimbang dan aktivitas fisik. Penurunan berat badan perlu dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing, bukan dengan diet ekstrem.

"Menurunkan berat badan dari obesitas ke berat badan normal dapat membantu memperbaiki kondisi. Namun, orang yang sudah memiliki berat badan normal tidak perlu menjadi terlalu kurus, karena berat badan ideal berbeda pada setiap orang, yang dipengaruhi faktor genetik dan bentuk tubuh alami," ujar See.

Bagi perempuan, pengelolaan berat badan juga perlu mempertimbangkan usia, kondisi hormonal, dan masa menopause. Konsultasi dengan dokter atau ahli gizi diperlukan, terutama bagi pasien yang sedang menjalani kemoterapi atau terapi lain agar penurunan berat badan tidak mengurangi massa otot dan kebutuhan nutrisi.

Untuk mencegah kanker serviks, See menekankan vaksinasi HPV sesuai rekomendasi pemerintah. WHO juga memasukkan vaksinasi HPV serta pemeriksaan HPV sebagai bagian penting pencegahan dan skrining kanker serviks.

Dukungan Mental Tetap Dibutuhkan

Selain pengobatan fisik, dukungan psikologis menjadi bagian penting dalam perawatan kanker. Menurut pengalaman klinis See, konflik keluarga, tekanan emosional, dan gangguan kesehatan mental dapat memperberat beban yang dihadapi pasien.

"Faktor stres yang sering ditemukan berasal dari konflik rumah tangga, perselingkuhan pasangan, masalah keluarga, gangguan kesehatan mental anggota keluarga, hingga tekanan emosional jangka panjang. Oleh karena itu, dokter tidak hanya memberikan terapi medis, tetapi juga banyak membantu pasien mengelola kondisi psikologisnya," tuturnya.

Meski demikian, National Cancer Institute Amerika Serikat menyatakan bukti bahwa stres secara langsung memengaruhi kelangsungan hidup pasien kanker masih tergolong lemah. Namun, dukungan sosial dan pengelolaan stres terbukti membantu mengurangi kecemasan, depresi, serta gejala yang berkaitan dengan penyakit dan pengobatan.

Kemajuan terapi memberi harapan bahwa kanker semakin dapat dikelola sebagai penyakit jangka panjang pada sebagian pasien. Namun, hasil pengobatan terbaik tetap bergantung pada deteksi dini, diagnosis yang tepat, akses terhadap terapi berbasis bukti, gaya hidup sehat, serta dukungan psikologis selama proses perawatan.