Periskop.id – Pemerintah menurunkan suku bunga pinjaman PNM Mekaar menjadi 8% per tahun untuk meringankan biaya pembiayaan pelaku usaha ultramikro. Kebijakan tersebut diproyeksikan menjangkau sekitar 10 juta hingga 15 juta nasabah, terutama perempuan pelaku usaha dari keluarga prasejahtera.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, penurunan bunga mencerminkan keberpihakan pemerintah terhadap ekonomi rakyat dan pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah.

"Pak Presiden Prabowo bahkan sudah memastikan bahwa bunga pinjaman ke Usaha Mikro (UMi) itu bisa turun dari 22 persen ke delapan persen," kata Purbaya seusai membuka Pasar Rakyat Usaha Mikro di Alun-Alun Kidul, Kota Yogyakarta, Kamis (16/7).

Menurut Purbaya, akses pembiayaan dengan biaya lebih rendah diperlukan agar pelaku usaha dapat mempertahankan kegiatan produksi, memperbesar skala usahanya, dan menciptakan pendapatan bagi masyarakat.

"Itu salah satu indikasi keberpihakan Bapak Presiden Prabowo terhadap ekonomi Indonesia, terutamanya ekonomi rakyat dan UMKM," tuturnya. 

Kebijakan yang dimaksud Purbaya merujuk pada penurunan bunga PNM Mekaar dari kisaran 18–25% menjadi 8% per tahun. Pemerintah menyediakan subsidi sekitar 10% untuk menekan biaya pinjaman tersebut. Pelaksanaannya akan ditindaklanjuti PNM bersama Danantara setelah payung hukum dan mekanisme teknis diselesaikan.

PNM Mekaar merupakan pembiayaan modal usaha tanpa agunan bagi perempuan pelaku usaha ultramikro yang belum dapat mengakses layanan perbankan. Plafon pinjamannya mencapai Rp15 juta, sedangkan nasabah yang membutuhkan pembiayaan lebih besar akan diarahkan menuju Kredit Usaha Rakyat atau KUR. Kebijakan bunga 8% direncanakan berlaku bagi seluruh nasabah, termasuk mereka yang masih menjalani pinjaman dengan bunga lebih tinggi.

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menegaskan layanan kredit mikro dan supermikro berbunga rendah juga akan tersedia melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.

"Yang tadinya bunganya 22%, saya turunkan jadi 8%. Dibandingkan dengan 22%, lumayan 8%," kata Prabowo dalam Puncak Peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79 di Jakarta, Minggu, 12 Juli 2026.

Perlu Diikuti Pendampingan Usaha

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance M. Rizal Taufikurahman menilai, penurunan bunga dapat membantu nasabah PNM Mekaar mengembangkan usaha dan beralih secara bertahap ke pembiayaan formal seperti KUR.

“Jika dikelola dengan baik, PNM Mekaar dapat menjadi jembatan inklusi keuangan yang lebih efektif sekaligus mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap pinjaman informal yang biayanya jauh lebih mahal,” kata Rizal.

Namun, bunga murah dinilai belum cukup untuk membuat pelaku usaha naik kelas. Kebijakan itu harus disertai pendampingan, peningkatan literasi keuangan, pencatatan administrasi, dan penguatan kapasitas usaha. Keberhasilannya juga perlu diukur melalui peningkatan omzet, produktivitas, penciptaan lapangan kerja, dan jumlah nasabah yang beralih ke pembiayaan lebih besar.

Program PNM Mekaar berbeda dengan Pembiayaan Ultra Mikro atau UMi yang dikelola Pusat Investasi Pemerintah di bawah Kementerian Keuangan. UMi menyasar pelaku usaha yang belum layak memperoleh pinjaman perbankan dengan kebutuhan pembiayaan maksimal Rp20 juta.

Hingga akhir 2024, Pembiayaan UMi telah menjangkau 11,84 juta pelaku usaha. Dengan dana APBN yang ditempatkan pada PIP sebesar Rp10 triliun, nilai pembiayaan bergulirnya mencapai sekitar Rp44,64 triliun melalui lembaga keuangan bukan bank dan lembaga penyalur lainnya.

Purbaya menilai penguatan UMKM juga penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan stabilitas sosial di tengah tekanan global. Kondisi ekonomi domestik yang kuat, menurut dia, dapat mempertahankan daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi.

"Ada karena beberapa sentimen global di pasar dunia yang kita nggak dapat kendalikan, tapi selama kita pastikan ekonomi Indonesia tumbuh dan usaha-usaha seperti UMKM juga bisa hidup, lama-lama juga rupiah akan menguat," katanya.

Pasar Rakyat UMi 2026 di Yogyakarta sendiri menghadirkan sekitar 200 UMKM binaan PIP. Selain menjadi tempat promosi dan pemasaran produk, kegiatan tersebut diisi dengan penjualan sembako murah, perlombaan, serta pengenalan program elektrifikasi becak Bekalista.

Program Bekalista melibatkan 80 penerima manfaat dan ditunjang 12 stasiun pengisian daya, delapan baterai cadangan, bengkel bergerak, serta bengkel induk di SMK Negeri 3 Yogyakarta. Seluruh pengembangan ekosistem tersebut melibatkan tenaga kerja lokal.