Periskop.id - Volkswagen China mengambil langkah besar dengan merambah pasar Asia Tengah. Pabrikan asal Jerman ini meninggalkan strategi lama yang selama puluhan tahun cuma memproduksi kendaraan untuk konsumen domestik China.

Strategi made in China for China itu sudah berjalan sejak Volkswagen mulai berproduksi di China pada 1985 lewat kerja sama dengan Shanghai Automotive Industry Corporation (SAIC). Kerja sama itu kemudian diperluas dengan First Automotive Works (FAW) beberapa tahun setelahnya.

Selama bertahun-tahun, mobil rakitan China dari Volkswagen dirancang khusus untuk pasar domestik dan tidak dipasarkan ke luar negeri. Kondisi pasar otomotif global yang berubah membuat pendekatan tersebut kini digeser.

Pergeseran arah bisnis ini diperkuat dalam forum internasional di Tashkent, Uzbekistan, pada Juni 2026. CEO Volkswagen China Robert Cisek bertemu Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier serta Presiden Uzbekistan Shavkat Mirziyoyev dalam forum tersebut.

Dari pertemuan itu, muncul rencana perakitan lokal delapan model Volkswagen di Uzbekistan hingga akhir 2026. Model-model tersebut merupakan hasil produksi FAW-Volkswagen dan SAIC Volkswagen.

Beberapa model yang masuk rencana produksi antara lain Volkswagen Tiguan L Pro, Passat Pro, Teramont Pro, dan lini Jetta. Mobil-mobil ini nantinya tidak cuma dipasarkan di Uzbekistan.

Volkswagen berencana mengekspor kendaraan tersebut ke berbagai negara Asia Tengah, kawasan Commonwealth of Independent States (CIS), hingga Kaukasus.

FAW-Volkswagen pada kesempatan yang sama telah merampungkan sertifikasi tiga model di Kazakhstan. Ketiganya yakni Volkswagen Magotan yang bakal dipasarkan dengan nama Passat, Tayron L, serta Jetta VS7.

Masuknya tiga model baru itu diperkirakan memperkuat jajaran produk Volkswagen di Kazakhstan. Saat ini merek asal Jerman tersebut masih mengandalkan Volkswagen Touareg rakitan Slovakia sebagai model andalan di pasar tersebut.

Ekspansi ke Asia Tengah dinilai jadi langkah strategis Volkswagen di tengah perubahan industri otomotif China. Meski masih memimpin penjualan kendaraan berbasis Internal Combustion Engine (ICE), pangsa pasar mobil konvensional terus tergerus seiring naiknya adopsi kendaraan energi baru atau New Energy Vehicle (NEV).

Strategi ekspor ini muncul di tengah berbagai laporan soal restrukturisasi global Volkswagen. Sejumlah langkah efisiensi disebut tengah disiapkan, mulai dari penyederhanaan lini produk, penutupan sejumlah fasilitas produksi di Eropa, hingga pengurangan tenaga kerja.

Volkswagen juga menghadapi tantangan berupa naiknya biaya operasional, ketatnya persaingan dengan produsen otomotif asal China, serta dampak kebijakan tarif impor Amerika Serikat. Lewat ekspansi ke Asia Tengah dan kolaborasi dengan mitra lokal, Volkswagen berharap bisa memperkuat daya saing di pasar global sekaligus memperluas jangkauan ekspor kendaraan yang diproduksi di China.