Periskop.id - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai mengarahkan kawasan Geopark Rinjani dan Tambora sebagai pusat pengembangan kebudayaan daerah yang terintegrasi dengan sektor pariwisata berbasis masyarakat. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat identitas budaya lokal sekaligus meningkatkan daya tarik wisata NTB di tingkat nasional hingga internasional.
Kepala Dinas Kebudayaan NTB Muhamad Ihwan mengatakan, kawasan taman bumi Gunung Rinjani dan Gunung Tambora tidak hanya diposisikan sebagai destinasi alam dan pendakian, tetapi juga menjadi simpul pengembangan budaya masyarakat lokal.
"Geopark Rinjani dan Tambora menjadi titik simpul bagian dari ekosistem kebudayaan NTB," kata Ihwan di Mataram, Minggu (17/5).
Menurut dia, desa-desa yang berada di kawasan kaki Gunung Rinjani dan Tambora hingga wilayah pesisir Lombok dan Sumbawa menyimpan kekayaan budaya yang dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata berbasis tradisi masyarakat.
Pemprov NTB kini mulai menyiapkan sejumlah atraksi budaya di kawasan geopark tersebut. Salah satu program yang sedang disiapkan adalah konsep “Kopi Budaya” di kawasan Sembalun, Lombok Timur.
Program tersebut menggabungkan potensi kopi lokal dengan pengalaman wisata budaya yang melibatkan masyarakat sekitar. Kawasan lereng Rinjani sendiri dikenal sebagai daerah penghasil kopi arabika dan robusta yang cukup populer di NTB.
Ihwan menilai, pendekatan wisata budaya menjadi strategi penting untuk memperkuat posisi NTB sebagai destinasi unggulan nasional. Selain memiliki bentang alam yang kuat, NTB juga dinilai masih mampu menjaga tradisi lokal di tengah perkembangan modernisasi.
“Beda tidak masalah, karena setiap orang memiliki pandangan dan cara berpikir masing-masing. Tapi, pada satu titik, kita ubah sama-sama untuk membangun, memajukan, dan lebih cepat menduniakan Nusa Tenggara Barat," ucap Ihwan.
Tradisional Tapi Tak Kuno
Konsep pengembangan budaya yang disiapkan pemerintah daerah, lanjutnya, tidak akan membuat tradisi menjadi eksklusif ataupun tertutup terhadap perkembangan zaman. Pemprov justru ingin menghadirkan budaya lokal yang tetap relevan dengan generasi muda dan wisatawan modern.
"Kami kembangkan budaya tradisional, tapi tidak kuno dengan mengikuti perkembangan kekinian tanpa meninggalkan nilai-nilai Nusa Tenggara Barat. Mungkin bentuknya lebih ke Yogyakarta yang terus mempertahankan kebudayaan," pungkasnya.
Langkah penguatan budaya berbasis geopark ini juga sejalan dengan status kawasan Rinjani sebagai UNESCO Global Geopark sejak 2018. Sementara Gunung Tambora terus dikembangkan sebagai bagian dari jaringan geopark nasional yang memiliki kekayaan geologi, budaya, dan sejarah.
Data Kementerian Pariwisata menunjukkan, tren wisata berbasis budaya dan ekowisata terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Wisatawan kini tidak hanya mencari panorama alam, tetapi juga pengalaman autentik yang melibatkan tradisi, kuliner, hingga kehidupan masyarakat lokal.
Sebelumnya, dilaporkan, terjadi peningkatan kunjungan wisatawan ke Gunung Rinjani selama libur panjang Mei 2026. Balai Taman Nasional Gunung Rinjani mencatat jumlah pendaki mencapai 1.505 orang dalam periode 14-16 Mei 2026, terdiri dari 965 wisatawan domestik dan 540 wisatawan mancanegara.
Pemerintah daerah berharap penguatan budaya di kawasan geopark mampu memperpanjang lama tinggal wisatawan sekaligus meningkatkan perputaran ekonomi masyarakat desa wisata di sekitar Rinjani dan Tambora.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar