Periskop.id — Lima mahasiswa Universitas Surabaya (Ubaya) mengembangkan MangoNut Bar, prototipe camilan berbahan daun mangga dan kulit kacang tanah. Inovasi ini dirancang untuk meningkatkan nilai guna hasil samping pertanian sekaligus membuka peluang pengembangan pangan fungsional.
MangoNut Bar dikembangkan oleh Josephine Aprilia, Felicia Tiffany, Jovianne Vevina, Sabina Ananda Verani Putri, dan Edwin Tirtana. Mereka berasal dari Fakultas Teknobiologi serta Fakultas Bisnis dan Ekonomika Ubaya.
Kolaborasi lintas disiplin tersebut mengantarkan tim meraih medali emas kategori pangan, penghargaan Favorite Poster kategori pangan, dan juara harapan III seluruh kategori dalam Mandalika Essay Competition 8 di Lombok pada 16 Mei 2026.
Memanfaatkan Kandungan Daun Mangga
Gagasan MangoNut Bar berawal dari keprihatinan tim terhadap tingginya jumlah penderita diabetes di Indonesia. Mereka kemudian menelusuri bahan alami yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, termasuk daun mangga yang mengandung senyawa mangiferin.
“Setelah kami cari tahu, ternyata daun mangga memiliki senyawa antidiabetes berupa mangiferin. Pemanfaatan ekstrak daun mangga dapat mencegah lonjakan kadar gula dalam darah karena proses penyerapan glukosa yang menurun,” kata Josephine.
Kajian ilmiah memang menunjukkan mangiferin merupakan senyawa polifenol yang banyak ditemukan pada daun mangga dan memiliki potensi aktivitas antioksidan serta antidiabetes. Namun, sebagian besar bukti penurunan gula darah masih berasal dari penelitian laboratorium dan model hewan, sehingga khasiat serupa pada manusia maupun pada produk MangoNut Bar belum dapat disimpulkan tanpa pengujian lebih lanjut.
Tim juga memilih kulit kacang tanah karena bahan tersebut umumnya menjadi hasil samping pengolahan pangan. Sejumlah penelitian menemukan kulit kacang memiliki serat dan senyawa fenolik yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan tambahan produk pangan, termasuk kukis fungsional.
Konteks kesehatan yang melatarbelakangi inovasi ini cukup besar. Pedoman Kementerian Kesehatan mencatat sekitar 20,4 juta orang dewasa Indonesia hidup dengan diabetes pada 2024, menempatkan Indonesia di peringkat kelima dunia. Jumlahnya diproyeksikan meningkat menjadi 28,6 juta pada 2050, sementara Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat prevalensi diabetes berdasarkan pemeriksaan gula darah pada penduduk berusia minimal 15 tahun mencapai 11,7%.
Dikembangkan Selama Tiga Bulan
Proses pengembangan MangoNut Bar berlangsung sekitar tiga bulan di bawah bimbingan dosen Fakultas Teknobiologi Ubaya, Gabriel Tirtawijaya. Tim melakukan sejumlah percobaan untuk menemukan komposisi yang dapat menghasilkan tekstur, rasa, dan aroma yang dapat diterima.
“Tantangan utamanya karena kami berasal dari fakultas yang berbeda, sehingga menyesuaikan jadwal dan kesibukannya cukup sulit. Selain itu, butuh beberapa kali percobaan agar produk yang dihasilkan memiliki tekstur, rasa, dan aroma yang enak,” kata Josephine.
Daun mangga terlebih dahulu dikeringkan menggunakan oven bersuhu 55 derajat Celsius selama 1,5 jam. Sementara itu, kulit kacang tanah dikeringkan pada suhu 60 derajat Celsius selama dua jam. Pengeringan dilakukan untuk mengurangi kadar air sebelum kedua bahan dihaluskan menjadi serbuk.
Serbuk tersebut kemudian dicampurkan dengan mentega, pemanis eritritol, madu, telur, tepung maizena, kacang tanah panggang, dan rice crispy. Adonan dipanggang selama sekitar 15 menit pada suhu 120 derajat Celsius sebelum dipotong menjadi bentuk batangan.
Meski memiliki potensi, MangoNut Bar masih berstatus inovasi atau prototipe mahasiswa. Sebelum dipasarkan dengan klaim kesehatan tertentu, produk perlu menjalani pengujian komposisi gizi, keamanan bahan, cemaran, daya simpan, respons gula darah, serta konsistensi produksi. BPOM mengatur bahwa klaim pada label maupun iklan pangan olahan harus memiliki dasar dan memenuhi ketentuan yang berlaku.
Tren Mengolah Limbah Menjadi Camilan
Inovasi pemanfaatan hasil samping pertanian juga dikembangkan mahasiswa di kampus lain. Mahasiswa Universitas Jember, misalnya, menciptakan ChocoCara Bar dari cascara atau kulit kopi kering yang dipadukan dengan oat, kurma, dan cokelat. Produk tersebut diperkenalkan dalam Pameran Gelar Produk Pangan Baru 2026.
Rektor Universitas Jember Iwan Taruna menilai, pengembangan makanan dari hasil samping pertanian dapat menjadi bentuk hilirisasi penelitian kampus. “Langkah mahasiswa FTP menyulap produk sampingan kopi menjadi camilan sehat bermutu tinggi adalah bentuk nyata dari hilirisasi riset kampus yang solutif,” serunya.
Josephine menilai, konsep MangoNut Bar juga memiliki peluang untuk dilanjutkan menuju tahap produksi yang lebih besar. Ketersediaan bahan dan proses pembuatan yang relatif sederhana dinilai menjadi modal awal untuk pengembangan produk.
“Selain itu, inovasi Mangonut ini sangat potensial untuk diproduksi dalam skala industri karena bahan baku yang mudah ditemukan, proses pembuatan yang sederhana, dan modal yang tidak terlalu tinggi,” ujarnya.
Namun, pengembangan menuju skala industri tetap memerlukan standardisasi bahan baku dan proses produksi. Tim juga perlu membuktikan manfaat, keamanan, dan penerimaan konsumen agar MangoNut Bar tidak berhenti sebagai karya kompetisi, tetapi dapat berkembang menjadi produk pangan yang layak dipasarkan.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar