periskop.id - Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan impor bahan baku plastik dari sejumlah negara alternatif mulai diproses di tengah lonjakan harga di pasar domestik. Langkah ini dilakukan untuk mengatasi gangguan pasokan dari Timur Tengah akibat konflik yang masih berlangsung.
Selama ini, Indonesia bergantung pada impor nafta sebagai bahan baku utama biji plastik dari kawasan Timur Tengah. Namun, kondisi geopolitik telah menghambat distribusi dan pengapalan, sehingga pasokan menjadi tersendat.
Sebagai solusi jangka pendek, ia bilang, sumber impor dialihkan ke tiga wilayah, yakni India, Amerika Serikat, dan Afrika. Proses impor dari negara-negara tersebut disebut sudah berjalan, meski membutuhkan waktu untuk penyesuaian rantai pasok.
"Ya sudah mulai diproses, yang dari 3 negara tadi sudah proses Cuman kan ya perlu waktu kan, jadi sekarang masih proses dengan stok yang ada," kata Budi kepada media, Jakarta, Senin (14/3).
Ia menambahkan, pihaknya juga terus berkoordinasi dengan perwakilan perdagangan di luar negeri untuk memperluas jaringan pemasok bahan baku plastik. Upaya ini penting guna menjaga keberlanjutan industri dalam negeri yang sangat bergantung pada ketersediaan bahan baku.
Menurut Budi, kondisi ini merupakan bagian dari krisis global akibat keterbatasan bahan baku. Sejumlah negara produsen plastik seperti Taiwan, Korea Selatan, Thailand, Vietnam, dan Singapura juga mengalami tekanan produksi.
"Jadi kemarin kami sudah koordinasi dengan produsen, pada prinsipnya ya ada, tapi kan kita harus nyari terus ya karena juga gini, produsen plastiknya di beberapa negara seperti Taiwan, Korea Selatan, Thailand, Vietnam, Singapura itu kan banyak yang post-manager. Jadi memang ini krisis global terkait dengan keterbatasan bahan baku tadi Itu," jelasnya.
Saat ditanya mengenai waktu kedatangan impor, Budi mengatakan pasokan diharapkan tiba dalam waktu dekat. “Secepatnya,” ujarnya.
Lebih jauh, terkait kenaikan harga yang dikhawatirkan pelaku usaha, ia menegaskan upaya percepatan impor dari negara alternatif terus dilakukan. Namun, pergerakan harga masih dipengaruhi kondisi pasar global.
"Ya makanya itu tadi ya, kita harus cepat juga melakukan solusinya melalui negara lain yang bisa mensuplai. Jadi ini kan memang, apa namanya, krisis global ya Artinya memang selama ini kan supplier kita kan kebanyakan dari Timur Tengah Tapi alternatif-alternatif dari negara lain kan memang sebagian sudah kita dapet," tutupnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar