Periskop.id - YouTube mengumumkan pembaruan kebijakan terkait pelabelan konten yang dibuat atau diubah menggunakan kecerdasan buatan generatif. 

Dalam pernyataan di laman resminya pada Rabu (27/5), YouTube menyebut transparansi menjadi perhatian penting bagi komunitasnya, terutama ketika teknologi AI semakin banyak digunakan dalam pembuatan konten.

Advertisement

YouTube mengatakan, sejak 2024 pihaknya sudah mulai memberi label pada konten ketika kreator menyatakan bahwa mereka menggunakan alat AI. Langkah itu dilakukan agar penonton memahami apakah sebuah konten dibuat, diubah, atau dipengaruhi oleh teknologi AI.

“Kami secara konsisten mendengar dari komunitas kami bahwa mereka menghargai transparansi dalam hal konten AI generatif,” demikian pernyataan YouTube.

Platform berbagi video itu kini membuat dua pembaruan utama agar proses pengungkapan penggunaan AI menjadi lebih sederhana bagi kreator dan lebih mudah dipahami oleh penonton. Pembaruan pertama berkaitan dengan posisi label. 

Untuk video berdurasi panjang, label akan muncul langsung di bawah pemutar video dan berada di atas deskripsi. Sementara untuk Shorts, label akan tampil sebagai overlay di dalam video.

YouTube menjelaskan bahwa label tersebut akan berlaku untuk konten fotorealistis atau konten yang secara bermakna diubah maupun dibuat menggunakan AI. 

Fotorealistis dalam konteks ini berarti konten yang terlihat seperti foto atau video nyata, sehingga berpotensi membuat penonton mengira bahwa peristiwa atau objek di dalamnya benar-benar terjadi.

“Dengan memindahkan label-label ini ke panggung utama, pemirsa mendapatkan konteks yang mereka butuhkan secara sekilas,” kata YouTube.

Sementara itu, untuk konten yang tidak realistis, berbentuk animasi, atau hanya mengalami perubahan kecil, informasi pengungkapan penggunaan AI tetap bisa ditemukan di bagian deskripsi yang diperluas. 

Dengan kata lain, YouTube membedakan perlakuan antara konten AI yang sangat menyerupai kenyataan dan konten AI yang secara visual lebih mudah dikenali sebagai tidak nyata.

Pembaruan kedua adalah pengenalan deteksi AI otomatis. YouTube menyatakan kreator tetap diwajibkan mengungkap secara manual apabila menggunakan AI realistis. Namun, mulai Mei 2026, YouTube akan meluncurkan sinyal internal baru untuk membantu mengidentifikasi konten buatan AI.

Jika kreator tidak menjelaskan apakah mereka menggunakan AI atau tidak, tetapi sistem YouTube mendeteksi penggunaan AI fotorealistis yang signifikan, platform tersebut akan secara otomatis menambahkan label pada konten tersebut.

“Jika seorang kreator tidak menyebutkan apakah mereka menggunakan AI atau tidak, tetapi sistem kami mendeteksi penggunaan AI fotorealistik yang signifikan, kami akan secara otomatis menerapkan label tersebut,” tulis YouTube.

Meski demikian, YouTube menyebut kreator tetap memiliki kendali. Apabila kreator merasa kontennya keliru ditandai sebagai buatan AI, mereka dapat memperbarui status pengungkapan melalui YouTube Studio. Namun, pengungkapan tersebut akan bersifat permanen dalam beberapa kondisi tertentu.

Kondisi itu mencakup konten yang dibuat menggunakan alat AI milik YouTube, seperti Veo atau Dream Screen. Selain itu, label juga akan tetap permanen pada konten yang memiliki metadata C2PA yang menunjukkan bahwa konten tersebut sepenuhnya dibuat dengan AI generatif. 

Secara sederhana, metadata C2PA adalah informasi teknis yang melekat pada file digital untuk menunjukkan asal-usul atau proses pembuatan konten.

YouTube menegaskan perubahan ini dirancang untuk menyeimbangkan transparansi dengan kendali kreator. Platform tersebut juga menekankan bahwa keberadaan label AI tidak otomatis memengaruhi rekomendasi video maupun kelayakan monetisasi.

“Perubahan ini dirancang untuk menyeimbangkan transparansi dengan kendali kreator,” kata YouTube.

YouTube juga menyatakan, tujuan utama kebijakan ini adalah membantu penonton dan kreator mendapatkan informasi yang tepat di tengah perkembangan AI yang semakin cepat. 

Dengan label yang lebih jelas dan deteksi otomatis, penonton diharapkan dapat lebih mudah memahami konteks sebuah konten sebelum mempercayainya sebagai peristiwa nyata.