Periskop.id - Pimpinan Pusat Muhammadiyah tengah mempersiapkan pembangunan pabrik cairan infus. Langkah ini akan memperkuat kemandirian sektor kesehatan di lingkungan organisasi lewat entitas bisnis barunya, yakni PT Suryavena Farma Indonesia.
“Selama ini Muhammadiyah kuat di sektor kesehatan dan pendidikan. Namun, untuk suplai alat kesehatan dan obat-obatan, masih bergantung pada pihak luar,” kata Direktur Utama PT Suryavena Farma Indonesia Tatat Rahmita Utami usai peluncuran PT Suryavena Farma Indonesia di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Senin (13/4).
Tatat menjelaskan, Muhammadiyah saat ini memiliki sekitar 130 rumah sakit serta lebih dari 300 klinik yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Jumlah tersebut terus bertambah setiap tahun, namun belum didukung oleh industri hulu kesehatan milik sendiri.
Menurut Tatat, kondisi tersebut mendorong Muhammadiyah untuk mulai memproduksi kebutuhan medis secara mandiri. Dimulai dari cairan infus melalui merek Suryavena.
Selama dua tahun terakhir, kata dia, produksi cairan infus Suryavena masih dilakukan melalui skema maklon atau kerja sama dengan pabrik pihak lain. Hal ini menimbulkan sejumlah kendala, terutama terkait konsistensi pasokan.
“Karena masih menumpang di pabrik lain, ada keterbatasan suplai. Padahal kebutuhan di internal Muhammadiyah cukup besar,” ujarnya.
Sentra Industri
Untuk itu, Muhammadiyah berinisiatif membangun pabrik sendiri di kawasan Karangploso, Malang, Jawa Timur. Lokasi tersebut dipilih karena merupakan sentra industri cairan infus nasional.
“Lahan yang tersedia sekitar 14 hektare dan sudah melalui uji kelayakan, termasuk kualitas air. Hasilnya memenuhi syarat untuk pembangunan pabrik cairan infus,” kata Tatat.
Ia menargetkan pembangunan pabrik dapat dimulai dalam waktu dekat dengan target mulai beroperasi pada akhir 2027 atau awal 2028. Sumber pendanaan akan berasal dari kombinasi pembiayaan eksternal, termasuk perbankan dan investor.
Saat ini, studi kelayakan (feasibility study) telah dilakukan dengan melibatkan ITB, serta didukung konsultan keuangan untuk perencanaan pembiayaan.
Tatat menyebutkan kapasitas produksi pabrik ditargetkan mencapai 15 juta botol per tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 13 juta botol akan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan internal Muhammadiyah, sementara sisanya berpotensi dipasarkan secara umum.
Permintaan pasar terhadap produk Suryavena, lanjutnya, cukup tinggi karena menawarkan harga kompetitif dengan kualitas yang baik. “Bahkan di luar rumah sakit Muhammadiyah sudah banyak yang berminat, tetapi saat ini masih terbatas karena kapasitas produksi belum optimal,” ujarnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar