Periskop.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menuai sorotan internasional setelah laporan CNN menyebut dirinya telah mengancam, membuka kemungkinan menyerang, atau benar-benar melakukan operasi militer terhadap sedikitnya 15 negara selama dua periode kepemimpinannya di Gedung Putih.
Laporan tersebut muncul usai Trump melontarkan pernyataan keras terhadap Oman dalam rapat kabinet di Gedung Putih, Rabu (27/5). Trump memperingatkan Oman dapat menjadi target militer Amerika Serikat apabila mencoba bekerja sama dengan Iran dalam mengendalikan Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia.
"Oman akan bersikap seperti negara lain, atau kami harus menghancurkan mereka," kata Trump dikutip Kamis (28/5)
Meski pernyataan itu disebut tidak disampaikan dalam format kebijakan resmi pemerintah, CNN menilai ucapan Trump mencerminkan pola konsisten dalam pendekatan politik luar negerinya, yakni menjadikan ancaman penggunaan kekuatan militer sebagai alat tekanan diplomatik.
Dalam laporan tersebut, Oman disebut menjadi negara ke-15 yang pernah diancam akan diserang, dibuka kemungkinan untuk diserang, atau menjadi target operasi militer AS di bawah kepemimpinan Trump. CNN mencatat sebagian besar ancaman maupun operasi militer itu terjadi dalam 16 bulan pertama masa jabatan keduanya sebagai Presiden AS.
Sejumlah negara yang disebut pernah menjadi sasaran operasi militer AS di era Trump antara lain Iran, Irak, Somalia, Suriah, Venezuela, Nigeria, dan Yaman. Sebagian operasi tersebut diklaim Washington menyasar kelompok bersenjata atau jaringan teroris, bukan pemerintahan resmi negara terkait.
Selain operasi militer langsung, Trump juga beberapa kali melontarkan ancaman terhadap Kanada, Kolombia, Kuba, Greenland yang merupakan wilayah Denmark, Meksiko, Panama, hingga Oman. Pada periode pertamanya sebagai Presiden AS tahun 2017 hingga 2021, Trump juga sempat mengeluarkan ancaman terhadap Korea Utara dan Meksiko.
Ekspansi Geopolitik
CNN menyoroti bahwa cakupan ancaman maupun intervensi militer Trump tersebar di empat benua berpenduduk, yakni Asia, Afrika, Amerika Utara, dan Amerika Selatan. Timur Tengah menjadi kawasan yang paling sering muncul dalam retorika keras Trump. Hingga kini, sedikitnya lima negara di kawasan itu disebut pernah menjadi target ancaman atau tindakan militer AS, yakni Iran, Irak, Oman, Suriah, dan Yaman.
Selain ancaman keamanan, sejumlah pernyataan Trump juga dinilai mengarah pada gagasan ekspansi geopolitik Amerika Serikat. Dalam beberapa kesempatan, Trump sempat menyinggung kemungkinan pengambilalihan wilayah strategis seperti Greenland dan Terusan Panama.
Dari total 15 negara yang disebut dalam laporan CNN, lima di antaranya bahkan pernah dikaitkan Trump sebagai wilayah potensial untuk berada di bawah pengaruh atau kontrol Amerika Serikat, yakni Kanada, Kuba, Greenland, Panama, dan Venezuela.
Laporan tersebut juga menyoroti besarnya dampak geopolitik dari pendekatan luar negeri Trump. Negara-negara yang pernah menerima ancaman atau menjadi target operasi militer AS di era Trump disebut mencakup populasi sekitar satu dari setiap 11 penduduk dunia.
Situasi itu dinilai meningkatkan kekhawatiran internasional terhadap stabilitas global, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, Laut China Selatan, hingga kawasan Amerika Latin.
Data dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan Amerika Serikat masih menjadi negara dengan belanja militer terbesar di dunia. Pada 2025, anggaran pertahanan AS tercatat melampaui US$900 miliar atau hampir 40% total belanja militer global.
Sementara itu, sejumlah pengamat hubungan internasional menilai, pendekatan Trump yang agresif dapat memperbesar risiko konflik terbuka antarnegara jika tidak diimbangi jalur diplomasi yang kuat. Meski demikian, kubu pendukung Trump berpendapat ancaman militer tersebut merupakan bagian dari strategi tekanan untuk menjaga kepentingan geopolitik dan ekonomi Amerika Serikat di tengah persaingan global yang semakin tajam.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar