Periskop.id - Panggung terbesar sepak bola dunia kembali menjadi saksi lahirnya para bintang masa depan. Babak 16 besar Piala Dunia 2026 menyajikan performa memukau dari sejumlah talenta muda paling menjanjikan di turnamen ini, yang sukses mencuri perhatian lewat aksi impresif mereka di lapangan.
Nama-nama seperti Ayyoub Bouaddi, Desire Doue, Nico O’Reilly, dan Lamine Yamal muncul sebagai jajaran pemain yang tampil paling menonjol.
Keberhasilan mereka dalam membantu negara masing-masing lolos ke babak perempat final sekaligus memperkuat peluang mereka untuk membawa pulang penghargaan bergengsi FIFA Young Player Award.
Menjelang bergulirnya babak delapan besar, FIFA memberikan sorotan khusus kepada para kandidat utama ini, di mana penghargaan tersebut dikhususkan bagi pemain terbaik Piala Dunia yang lahir pada atau setelah tanggal 1 Januari 2005.
Ayyoub Bouaddi (Maroko)

Kandidat pertama datang dari tim kejutan Atlas Lions, yaitu Ayyoub Bouaddi asal Maroko. Pemain muda milik klub Lille ini dikenal sebagai gelandang cerdas yang bertindak sebagai pengatur permainan sepanjang perjalanan Maroko menuju babak perempat final.
Kecerdasan luar biasa yang dimiliki Bouaddi ternyata tidak hanya terlihat di dalam lapangan, melainkan juga di luar lapangan hijau. Remaja berbakat ini tercatat pernah memenangi kompetisi public speaking pada usia 15 tahun, menyelesaikan pendidikan baccalaureate pada usia 16 tahun, dan saat ini sedang menempuh gelar pendidikan di bidang matematika.
Kecerdasan akademis tersebut tercermin nyata melalui ketenangan tingkat tinggi yang ia bawa ke lini tengah tim nasional Maroko. Tidak hanya mengandalkan otak, ketenangan bermain Bouaddi juga diimbangi dengan kekuatan fisik prima yang melampaui usianya yang masih sangat muda.
Kemampuan fisik dan mental ini sudah dirasakan langsung oleh tim Kanada saat menghadapi Maroko di babak 16 besar kemarin.
Desire Doue (Prancis)

Pada pertandingan babak perempat final berikutnya di Boston, Ayyoub Bouaddi dan timnas Maroko dijadwalkan akan saling berhadapan dengan Prancis. Di kubu lawan, mereka akan langsung bersua dengan kandidat kuat lainnya, yaitu Desire Doue.
Meskipun perhatian utama publik Prancis sering kali tertuju pada sosok bintang seperti Kylian Mbappe dan Michael Olise, performa Doue di lapangan membuktikan bahwa dirinya tidak pernah jauh dari sorotan utama.
Penyerang sayap milik klub Paris Saint-Germain (PSG) ini sebenarnya sudah sekali mengalahkan Bouaddi tahun ini di level domestik, yaitu saat ia berhasil meraih penghargaan Ligue 1 Young Player of the Season untuk kedua kalinya secara berturut-turut.
Penampilan halus dan efektif dari pemain berusia 21 tahun ini berlanjut mulus ke ajang Piala Dunia pertama dalam kariernya.
Doue tercatat telah menjadi starter dalam tiga dari lima pertandingan yang dilakoni Prancis, mencetak satu gol, serta memberi hadiah penalti penentu yang sukses dieksekusi oleh Mbappe untuk membawa Les Bleus melewati perlawanan keras Paraguay pada laga sebelumnya.
Nico O’Reilly (Inggris)

Kandidat ketiga yang tidak kalah potensial adalah Nico O’Reilly dari Inggris, yang berada di jalur bagan pertandingan yang memungkinkan dirinya bentrok dengan Maroko atau Prancis di babak final nanti.
Bek kiri yang bermain untuk klub Manchester City ini telah bertransformasi menjadi pilihan utama di skuad Inggris bentukan pelatih Thomas Tuchel.
O'Reilly tampil sejak awal pertandingan atau menjadi starter dalam empat dari lima laga yang dijalani Three Lions, serta selalu terlibat dalam setiap momen kemenangan tim.
Satu-satunya pertandingan di mana pemain berusia 21 tahun ini tidak masuk ke dalam jajaran starting eleven berakhir dengan skor imbang tanpa gol saat Inggris melawan Ghana.
Di antara para pemain starter reguler Inggris lainnya, O’Reilly sukses masuk posisi tiga besar untuk akurasi umpan serta menempati posisi kedua dalam jumlah tekel yang berhasil dimenangi.
Ia juga nyaris saja mencetak gol pertamanya di ajang Piala Dunia, namun sayang tembakan kerasnya membentur tiang gawang dalam kemenangan menegangkan Inggris atas tuan rumah bersama, Meksiko, di babak 16 besar.
Lamine Yamal (Spanyol)

Nama terakhir yang menjadi sorotan utama tentu saja adalah Lamine Yamal dari Spanyol. Pelatih tim nasional Spanyol, Luis de la Fuente, harus lebih hati-hati dalam mengatur menit bermain reguler bagi Yamal sejak sang pemain mengalami cedera otot belakang paha atau hamstring.
Pemain muda berbakat berusia 18 tahun ini sempat masuk sebagai pemain pengganti dari bangku cadangan pada pertandingan pertama saat La Roja ditahan imbang tanpa gol oleh Cabo Verde, namun setelah itu ia selalu dipercaya menjadi starter di setiap laga berikutnya.
Setelah berhasil mencetak gol pertamanya di ajang Piala Dunia saat bersua Austria di babak 32 besar, bintang muda asal klub Barcelona ini akhirnya menyelesaikan 90 menit pertandingan penuh pertamanya di turnamen ini saat menghadapi Portugal.
Dalam laga tersebut, ia memamerkan kilasan kemampuan olah bola khasnya yang luar biasa sekaligus membawa juara dunia tahun 2010 tersebut memastikan tiket pertemuan babak perempat final melawan Belgia.
Banyak pengamat menilai bahwa begitu talenta muda ini mencapai performa puncaknya, mungkin tidak ada lini pertahanan di dunia yang mampu menghentikannya.
Tinggalkan Komentar
Komentar