periskop.id - Kementerian Pertanian resmi menjalin kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional untuk mendorong produksi sektor pertanian dan perkebunan nasional. Kolaborasi itu diwujudkan lewat penandatanganan nota kesepahaman yang disertai komitmen anggaran hingga Rp40 triliun.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memaparkan, seluruh laboratorium dan kantor Kementan di 38 provinsi akan dibuka bebas bagi para peneliti BRIN dari seluruh Indonesia. Ia menegaskan fasilitas tersebut menjadi modal utama kolaborasi riset yang berskala nasional.

Advertisement

"Hari ini kita tanda tangan MoU dengan BRIN, kita kolaborasi. Yang pertama seluruh lab, kantor Kementerian Pertanian yang berada di tiap provinsi, 38 provinsi, itu bebas digunakan oleh para peneliti dari BRIN seluruh Indonesia," ujar Amran dalam konferensi pers di kantor Kementan, Jakarta Selatan, Selasa (9/6).

Dana Rp40 triliun yang disiapkan Kementan bukan hanya untuk kegiatan riset, tapi juga mencakup program pembinaan langsung kepada petani. Amran menegaskan, pendekatan ini dirancang jauh lebih masif dibanding uji coba skala kecil yang selama ini lazim dilakukan.

"Total anggaran kita kurang lebih Rp40 triliun, besar sekali. Nah, ini nanti sambil membina petani. Jadi bukan percobaan satu hektare dua hektare, ini 10.000 hektare, 5.000 hektare kita awasi bersama, 2.000 hektare seperti itu," paparnya.

Riset dan pembinaan petani itu akan diarahkan ke sejumlah komoditas pangan strategis nasional. Amran merinci, setelah padi dan jagung dinilai sudah mencapai swasembada, fokus berikutnya beralih ke kedelai, bawang putih, kakao, mete, tebu, serta komoditas ekspor bernilai tinggi seperti kopi.

"Jagung sudah swasembada untuk pakan. Ke depan kita fokus kedelai, bawang putih, kakao, mete, tebu, dan seterusnya yang demand-nya tinggi tingkat dunia dan bisa meningkatkan kesejahteraan petani dengan cepat," tutur Amran.

Pengembangan komoditas tersebut juga akan disesuaikan dengan keunggulan masing-masing wilayah. Amran menjelaskan, pendekatan berbasis keunggulan komparatif ini dipilih agar hasil riset dan pembinaan memberi dampak yang lebih nyata di lapangan.

"Kita menanam atau mengembangkan komoditas berdasarkan keunggulan komparatif suatu tempat. Iklimnya, agro-climate-nya cocok, budaya culture masyarakatnya oke, kita kembangkan di situ," ujarnya. Soal target produktivitas, ia memasang patokan minimal 5 ton per hektare, meski angka 3-4 ton per hektare pun disebut sudah terbilang bagus.

Kepala BRIN Arif Satria menegaskan, lembaganya siap mengerahkan seluruh kapasitas riset untuk menopang ketahanan pangan nasional. Menurutnya, kontribusi BRIN tidak terbatas pada sektor pertanian konvensional saja, tapi mencakup hortikultura, peternakan, dan dimensi pangan lainnya.

"Kita akan memberikan dukungan untuk tercapainya ketahanan pangan. Karena pangan tidak hanya soal padi, tapi pangan luas sekali, tidak hanya perkebunan, tapi juga hortikultura, tapi juga peternakan, dan dimensi pangan yang lainnya," ujar Arif dalam kesempatan yang sama.

Salah satu target ambisius yang diemban BRIN lewat kolaborasi ini adalah mendongkrak produktivitas bawang putih dalam negeri hingga 35 ton per hektare. Jika tercapai, angka itu disebut mampu memangkas ketergantungan Indonesia pada impor bawang putih secara signifikan.

"Kita ditargetkan untuk bisa produksi bawang putih itu 35 ton per hektare. Ini angka yang fantastis, kita ingin mengalahkan negara-negara lain yang sudah bisa menghasilkan 35 ton per hektare," kata Arif.

Arif menambahkan, dukungan BRIN untuk sektor pertanian akan memanfaatkan berbagai disiplin ilmu di luar bidang agrikultur murni, mulai dari kecerdasan buatan (artificial intelligence), genomik untuk menghasilkan varietas unggul, mesin pertanian, robotik, hingga teknologi smart farming.

"Dengan kolaborasi ini insyaallah ilmu-ilmu yang ada di BRIN, periset-periset yang ada di BRIN itu bisa kita kerahkan untuk mensupport suksesnya pembangunan pertanian di Indonesia," pungkas Arif.