Periskop.id — Peneliti Pusat Riset Metalurgi Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN mengembangkan teknologi pengolahan bijih nikel yang diklaim lebih efisien, fleksibel, dan minim limbah. Inovasi ini menjadi penting karena sebagian besar material dalam bijih nikel selama ini berpotensi menjadi limbah jika tidak diolah secara menyeluruh.

Peneliti Pusat Riset Metalurgi BRIN Iwan Setiawan mengatakan, teknologi tersebut dirancang untuk mengoptimalkan pemanfaatan kandungan bijih nikel secara lebih luas. Tidak hanya nikel yang diambil, tetapi juga unsur lain seperti besi dan magnesium agar dapat diubah menjadi produk bernilai ekonomi.

"Bijih nikel umumnya hanya mengandung sekitar 1–2% nikel. Artinya, lebih dari 98% material lainnya berpotensi menjadi limbah apabila tidak dimanfaatkan. Oleh karena itu, metode pengolahan apapun harus mampu mengoptimalkan pemanfaatan seluruh komponen yang terkandung di dalam bijih," ujarnya, Rabu (8/7). 

Menurut Iwan, persoalan besar dalam pengolahan nikel bukan hanya soal mengambil kandungan nikel dari bijih. Tantangan yang lebih luas adalah bagaimana membuat proses pengolahan lebih adaptif terhadap jenis bijih yang beragam, hemat energi, dan tidak meninggalkan limbah dalam jumlah besar.

Selama ini, teknologi pengolahan nikel yang banyak digunakan umumnya hanya cocok untuk salah satu jenis bijih, yakni saprolit atau limonit. Padahal, cadangan nikel Indonesia memiliki karakteristik yang beragam. Karena itu, teknologi yang terlalu spesifik dinilai kurang fleksibel untuk menghadapi perubahan kualitas cadangan bijih.

"Cadangan nikel terus berubah, kualitas bijih juga semakin beragam. Karena itu, diperlukan teknologi baru yang lebih adaptif terhadap karakteristik bijih yang tersedia," serunya.

Inovasi BRIN tersebut dikembangkan melalui modifikasi proses Caron yang disesuaikan dengan kondisi cadangan nikel Indonesia. Keunggulannya, teknologi ini dapat mengolah dua jenis bijih nikel sekaligus, yaitu saprolit dan limonit, dalam satu pendekatan proses.

Kemampuan mengolah dua jenis bijih ini menjadi nilai penting bagi industri nikel nasional. Saprolit selama ini banyak dimanfaatkan untuk produk seperti ferronickel dan nickel pig iron melalui jalur pirometalurgi. Sementara limonit kerap diarahkan untuk bahan baku produk antara baterai melalui jalur hidrometalurgi. Dengan teknologi yang lebih fleksibel, proses pengolahan berpotensi menjadi lebih efisien dan tidak terlalu bergantung pada satu jenis bijih.

BRIN menyebut inovasi tersebut telah menghasilkan sekitar lima paten yang berkaitan dengan proses pengolahan nikel. Pengembangan teknologinya juga telah dilakukan hingga skala laboratorium dan semi-pilot, dengan pengujian dalam kapasitas puluhan hingga ratusan kilogram.

Dari sisi pemanfaatan material, teknologi ini tidak berhenti pada ekstraksi nikel. Besi yang terkandung di dalam bijih dapat diolah menjadi Fe2O3 untuk pigmen atau besi oksalat sebagai bahan baku baterai. Sementara magnesium dapat diproses menjadi senyawa yang bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan industri.

"Prinsipnya adalah tidak ada sumber daya yang terbuang. Nikel, besi, dan magnesium semuanya diupayakan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi, sehingga limbah dapat ditekan seminimal mungkin," ucap Iwan.

Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep ekonomi sirkular, yakni mengurangi bahan terbuang dan memaksimalkan nilai dari setiap komponen sumber daya. Dalam konteks industri mineral, pendekatan ini semakin relevan karena hilirisasi nikel tidak hanya dituntut menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga harus menjawab kritik terkait limbah, emisi, dan dampak lingkungan.

Cadangan Nikel Indonesia

Data Kementerian ESDM menunjukkan Indonesia memiliki sumber daya nikel berupa bijih sebesar 18,55 miliar ton dan cadangan 5,33 miliar ton bijih per 2023. Besarnya cadangan tersebut membuat Indonesia menjadi pemain penting dalam pasokan bahan baku nikel global, sekaligus menempatkan Indonesia pada tantangan besar untuk memastikan pengolahannya dilakukan secara berkelanjutan.

Posisi Indonesia dalam rantai pasok nikel dunia juga semakin dominan. USGS dalam Mineral Commodity Summaries 2026 memperkirakan produksi tambang nikel global mencapai 3,9 juta ton pada 2025, dengan produksi Indonesia sebesar 2,6 juta ton. Produksi Indonesia juga diperkirakan naik 13% seiring peningkatan operasi sejumlah fasilitas baru.

Besarnya produksi tersebut membuat inovasi pengolahan menjadi semakin mendesak. Jika teknologi pengolahan tidak mampu memanfaatkan material secara optimal, volume limbah dari aktivitas pengolahan nikel berpotensi terus membesar seiring peningkatan kapasitas industri.

Isu keberlanjutan memang menjadi sorotan dalam hilirisasi nikel. 

Untuk diketahui, laporan terkait hilirisasi nikel dan pengelolaan limbah baterai mencatat, program hilirisasi memberi manfaat ekonomi, tetapi juga menyisakan tantangan ekologis bila tidak disertai tata kelola lingkungan yang kuat. Laporan itu menekankan bahwa masa depan energi bersih tidak cukup hanya dilihat dari produk akhirnya, tetapi juga dari proses produksi dan pengelolaan limbahnya.

Sebelumnya, Wakil Ketua Komite Hilirisasi Mineral dan Batu Bara Kadin Indonesia Djoko Widayatno menilai, nikel harus diarahkan menjadi basis transisi energi hijau, bukan hanya komoditas ekspor jangka pendek.

“Transportasi masa depan harus ditopang oleh industri yang berkelanjutan. Nikel kita harus menjadi tulang punggung transisi energi hijau, bukan sekadar komoditas ekspor jangka pendek,” kata Djoko.

Djoko juga mendorong penguatan tata kelola lingkungan, pelatihan SDM lokal, transfer teknologi, serta penggunaan teknologi bersih seperti High Pressure Acid Leach atau HPAL dan penerapan standar Environment, Social, and Governance di rantai pasok nikel. Menurut dia, hilirisasi nikel perlu diperkuat agar benar-benar berkelanjutan dan inklusif.

Pandangan serupa juga muncul dari pengamat ekonomi energi UGM Fahmy Radhi. Fahmy menyebut hilirisasi yang berlanjut ke industrialisasi dapat memperbesar peluang Indonesia mengambil peran strategis di pasar global. Ia juga menekankan pentingnya transfer teknologi agar tenaga kerja Indonesia mampu menguasai produksi baterai listrik.

"Kalau misalnya tenaga kerja kita belum memenuhi syarat tadi, maka harus ada kesepakatan tentang transfer of technology. Paling tidak lima tahun itu proses, nah lima tahun yang kedua tenaga kerja Indonesia sudah mampu sendiri untuk menghasilkan baterai listrik," ucapnya.

Dalam konteks tersebut, temuan BRIN menjadi bagian penting dari upaya memperkuat hilirisasi nikel berbasis riset. Teknologi pengolahan yang dapat mengambil nilai dari nikel, besi, dan magnesium berpotensi memperkecil limbah sekaligus membuka peluang produk turunan baru.

Meski demikian, teknologi ini belum langsung masuk tahap industri. Iwan mengatakan pengembangan masih membutuhkan fasilitas pilot plant berskala lebih besar untuk menguji kelayakan teknis dan keekonomian secara lebih matang.

"Pada skala laboratorium hasilnya sudah sangat baik. Tahap berikutnya adalah meningkatkan skala proses melalui pilot plant, sehingga dapat dibuktikan kelayakan ekonominya untuk kebutuhan industri," tutur Iwan.

Tahap pilot plant menjadi krusial karena teknologi yang berhasil di laboratorium belum tentu otomatis ekonomis saat diterapkan pada skala industri. Validasi lanjutan dibutuhkan untuk mengukur kebutuhan energi, biaya operasional, stabilitas proses, kualitas produk akhir, serta potensi integrasinya dengan rantai pasok industri nikel yang sudah berjalan.

Jika berhasil naik ke skala industri, inovasi BRIN dapat menjadi salah satu jawaban atas dua tantangan besar hilirisasi nikel Indonesia. Pertama, bagaimana meningkatkan nilai tambah mineral di dalam negeri. Kedua, bagaimana memastikan peningkatan nilai tambah tersebut tidak menghasilkan beban lingkungan yang lebih besar.

Dengan cadangan besar dan posisi dominan di pasar global, Indonesia tidak cukup hanya menjadi produsen nikel terbesar. Indonesia juga perlu menguasai teknologi pengolahan yang lebih bersih, efisien, dan adaptif terhadap perubahan kualitas bijih. Inovasi BRIN membuka peluang ke arah itu, meski pembuktian pada skala industri masih menjadi pekerjaan berikutnya.